Thursday, July 10, 2014

Disaat akhir ,Pemimpin yg memerdekakan NEGARA Indonesia

disaat akhir , pemimpin yg memerdekakan Indonesia
Terusirnya Presiden Soekarno dari Istana Yang Sangat Memilukan

ISLAMTOLERAN.COM- “Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno)

Tak lama setelah mosi tidak percaya parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dam MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam.

Bung Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir Bung Karno tidak bersahabat lagi. "Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!".

Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. "Mana kakak-kakakmu" kata Bung Karno. Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata "Mereka pergi ke rumah Ibu".

Rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru. Bung Karno berkata lagi "Mas Guruh, Bapak tidak boleh lagi tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara". Kata Bung Karno,

lalu Bung Karno melangkah ke arah ruang tamu Istana disana ia mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan karena para ajudan bung karno sudah ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu. "Aku sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan itu, Souvenir dan macam-macam barang. Itu milik negara.

Semua ajudan menangis saat tau Bung Karno mau pergi "Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan..." Salah satu ajudan separuh berteriak memprotes tindakan diam Bung Karno.

"Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit jikalau perang dengan Belanda jelas hidungnya beda dengan hidung kita. Perang dengan bangsa sendiri tidak, wajahnya sama dengan wajahmu...keluarganya sama dengan keluargamu, lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara". tegas bung karno kepada ajudannya.

Tiba-tiba beberapa orang dari dapur berlarian saat mendengar Bung Karno mau meninggalkan Istana. "Pak kami memang tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi, belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari biasanya".

Bung Karno tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa..."

Di hari kedua saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya datang perwira suruhan Orde Baru. "Pak, Bapak harus segera meninggalkan tempat ini". Beberapa tentara sudah memasuki ruangan tamu dan menyebar sampai ke ruang makan.

Mereka juga berdiri di depan Bung Karno dengan senapan terhunus. Bung Karno segera mencari koran bekas di pojok kamar, dalam pikiran Bung Karno yang ia takutkan adalah bendera pusaka akan diambil oleh tentara.

Lalu dengan cepat Bung Karno membungkus bendera pusaka dengan koran bekas, ia masukkan ke dalam kaos oblong, Bung Karno berdiri sebentar menatap tentara-tentara itu, namun beberapa perwira mendorong tubuh Bung Karno untuk keluar kamar.

Sesaat ia melihat wajah Ajudannya Maulwi Saelan ( pengawal terakhir bung karno ) dan Bung Karno menoleh ke arah Saelan.

"Aku pergi dulu" kata Bung Karno dengan terburu-buru. "Bapak tidak berpakaian rapih dulu, Pak" Saelan separuh berteriak.

Bung Karno hanya mengibaskan tangannya. Bung Karno langsung naik VW Kodok, satu-satunya mobil pribadi yang ia punya dan meminta sopir diantarkan ke Jalan Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati.

Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan halaman, matanya kosong. Ia meminta bendera pusaka dirawat hati-hati. Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun di halaman.

Kadang-kadang ia memegang dadanya yang sakit, ia sakit ginjal parah namun obat yang biasanya diberikan sudah tidak boleh diberikan. Sisa obat di Istana dibuangi.

Suatu saat Bung Karno mengajak ajudannya yang bernama Nitri gadis Bali untuk jalan-jalan. Saat melihat duku, Bung Karno kepengen duku tapi dia tidak punya uang. "Aku pengen duku, ...Tru, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang" Nitri yang uangnya pas-pasan juga melihat ke dompetnya, ia merasa cukuplah buat beli duku sekilo.

Lalu Nitri mendatangi tukang duku dan berkata "Pak Bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil". Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke arah Bung Karno. "Mau pilih mana, Pak manis-manis nih " sahut tukang duku dengan logat betawi kental.

Bung Karno dengan tersenyum senang berkata "coba kamu cari yang enak". Tukang Duku itu mengernyitkan dahinya, ia merasa kenal dengan suara ini. Lantas tukang duku itu berteriak "Bapak...Bapak....Bapak...Itu Bapak...Bapaak" Tukang duku malah berlarian ke arah teman-temannya di pinggir jalan" Ada Pak Karno, Ada Pak Karno...." mereka berlarian ke arah mobil VW Kodok warna putih itu dan dengan serta merta para tukang buah memberikan buah-buah pada Bung Karno.

Awalnya Bung Karno tertawa senang, ia terbiasa menikmati dengan rakyatnya. Tapi keadaan berubah kontan dalam pikiran Bung Karno, ia takut rakyat yang tidak tau apa-apa ini lantas digelandang tentara gara-gara dekat dengan dirinya. "Tri, berangkat ....cepat" perintah Bung Karno dan ia melambaikan ke tangan rakyatnya yang terus menerus memanggil namanya bahkan ada yang sampai menitikkan air mata. Mereka tau pemimpinnya dalam keadaan susah.

Mengetahui bahwa Bung Karno sering keluar dari Jalan Sriwijaya, membuat beberapa perwira pro Suharto tidak suka. Tiba-tiba satu malam ada satu truk ke rumah Fatmawati dan mereka memindahkan Bung Karno ke Bogor. Di Bogor ia dirawat oleh Dokter Hewan!...

Tak lama setelah Bung Karno dipindahkan ke Bogor, datanglah Rachmawati, ia melihat ayahnya dan menangis keras-keras saat tau wajah ayahnya bengkak-bengkak dan sulit berdiri.

Saat melihat Rachmawati, Bung Karno berdiri lalu terhuyung dan jatuh. Ia merangkak dan memegang kursi. Rachmawati langsung teriak menangis.

Malamnya Rachmawati memohon pada Bapaknya agar pergi ke Jakarta saja dan dirawat keluarga. "Coba aku tulis surat permohonan kepada Presiden" kata Bung Karno dengan suara terbata. Dengan tangan gemetar Bung Karno menulis surat agar dirinya bisa dipindahkan ke Jakarta dan dekat dengan anak-anaknya.

Rachmawati adalah puteri Bung Karno yang paling nekat. Pagi-pagi setelah mengambil surat dari bapaknya, Rachma langsung ke Cendana rumah Suharto. Di Cendana ia ditemui Bu Tien yang kaget saat melihat Rachma ada di teras rumahnya.

"Lhol, Mbak Rachma ada apa?" tanya Bu Tien dengan nada kaget. Bu Tien memeluk Rachma, setelah itu Rachma bercerita tentang nasib bapaknya. Hati Bu Tien rada tersentuh dan menggenggam tangan Rachma lalu dengan menggenggam tangan Rachma bu Tien mengantarkan ke ruang kerja Pak Harto.

"Lho, Mbak Rachma..ada apa?" kata Pak Harto dengan nada santun. Rachma-pun menceritakan kondisi Bapaknya yang sangat tidak terawat di Bogor. Pak Harto berpikir sejenak dan kemudian menuliskan memo yang memerintahkan anak buahnya agar Bung Karno dibawa ke Djakarta. Diputuskan Bung Karno akan dirawar di Wisma Yaso.

Bung Karno lalu dibawa ke Wisma Yaso, tapi kali ini perlakuan tentara lebih keras. Bung Karno sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan sesuatu, suatu saat Bung Karno tanpa sengaja menemukan lembaran koran bekas bungkus sesuatu, koran itu langsung direbut dan ia dimarahi.

Kamar Bung Karno berantakan sekali, jorok dan bau. Memang ada yang merapikan tapi tidak serius. Dokter yang diperintahkan merawat Bung Karno, dokter Mahar Mardjono nyaris menangis karena sama sekali tidak ada obat-obatan yang bisa digunakan Bung Karno.

Ia tahu obat-obatan yang ada di laci Istana sudah dibuangi atas perintah seorang Perwira Tinggi. Mahar mardjono hanya bisa memberikan Vitamin dan Royal Jelly yang sesungguhnya hanya madu biasa. Jika sulit tidur Bung Karno diberi Valium, Sukarno sama sekali tidak diberikan obat untuk meredakan sakit akibat ginjalnya tidak berfungsi.

Banyak rumor beredar di masyarakat bahwa Bung Karno hidup sengsara di Wisma Yaso, beberapa orang diketahui diceritakan nekat membebaskan Bung Karno.

Bahkan ada satu pasukan khusus KKO dikabarkan sempat menembus penjagaan Bung Karno dan berhasil masuk ke dalam kamar Bung Karno, tapi Bung Karno menolak untuk ikut karena itu berarti akan memancing perang saudara.

Pada awal tahun 1970 Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati. Bung Karno yang jalan saja susah datang ke rumah isterinya itu. Wajah Bung Karno bengkak-bengkak.

Ketika tau Bung Karno datang ke rumah Fatmawati, banyak orang langsung berbondong-bondong ke sana dan sesampainya di depan rumah mereka berteriak "Hidup Bung Karno....hidup Bung Karno....Hidup Bung Karno...!!!!!"

Sukarno yang reflek karena ia mengenal benar gegap gempita seperti ini, ia tertawa dan melambaikan tangan, tapi dengan kasar tentara menurunkan tangan Sukarno dan menggiringnya ke dalam. Bung Karno paham dia adalah tahanan politik.

Masuk ke bulan Februari penyakit Bung Karno parah sekali ia tidak kuat berdiri, tidur saja. Tidak boleh ada orang yang bisa masuk. Ia sering berteriak kesakitan. Biasanya penderita penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis yang kacau.

Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi tentara pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu tentara yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.

Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno.

"Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik" ujar istri bung hatta.

Hatta menoleh pada isterinya dan berkata "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kami itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini".

Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno.

Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah.

Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda - Bagaimana pula kabarmu, Hatta - Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil.

Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada.

Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.

SUMBER: http://www.islamtoleran.com/2014/06/terusirnya-presiden-soekarno-dari.html

"BOLEH DI SHARE"
Photo: Terusirnya Presiden Soekarno dari Istana Yang Sangat Memilukan

ISLAMTOLERAN.COM- “Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno) 

Tak lama setelah mosi tidak percaya parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dam MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam. 

Bung Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir Bung Karno tidak bersahabat lagi. "Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!".

Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. "Mana kakak-kakakmu" kata Bung Karno. Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata "Mereka pergi ke rumah Ibu".

Rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru. Bung Karno berkata lagi "Mas Guruh, Bapak tidak boleh lagi tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara". Kata Bung Karno,

lalu Bung Karno melangkah ke arah ruang tamu Istana disana ia mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan karena para ajudan bung karno  sudah ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu. "Aku sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan itu, Souvenir dan macam-macam barang. Itu milik negara.

Semua ajudan menangis saat tau Bung Karno mau pergi "Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan..." Salah satu ajudan separuh berteriak memprotes tindakan diam Bung Karno.

"Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit jikalau perang dengan Belanda jelas hidungnya beda dengan hidung kita. Perang dengan bangsa sendiri tidak, wajahnya sama dengan wajahmu...keluarganya sama dengan keluargamu, lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara". tegas bung karno kepada ajudannya.

Tiba-tiba beberapa orang dari dapur berlarian saat mendengar Bung Karno mau meninggalkan Istana. "Pak kami memang tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi, belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari biasanya". 

Bung Karno tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa..."

Di hari kedua saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya datang perwira suruhan Orde Baru. "Pak, Bapak harus segera meninggalkan tempat ini". Beberapa tentara sudah memasuki ruangan tamu dan menyebar sampai ke ruang makan.

 Mereka juga berdiri di depan Bung Karno dengan senapan terhunus. Bung Karno segera mencari koran bekas di pojok kamar, dalam pikiran Bung Karno yang ia takutkan adalah bendera pusaka akan diambil oleh tentara.

Lalu dengan cepat Bung Karno membungkus bendera pusaka dengan koran bekas, ia masukkan ke dalam kaos oblong, Bung Karno berdiri sebentar menatap tentara-tentara itu, namun beberapa perwira mendorong tubuh Bung Karno untuk keluar kamar. 

Sesaat ia melihat wajah Ajudannya Maulwi Saelan ( pengawal terakhir bung karno )  dan Bung Karno menoleh ke arah Saelan.

 "Aku pergi dulu" kata Bung Karno dengan terburu-buru. "Bapak tidak berpakaian rapih dulu, Pak" Saelan separuh berteriak. 

Bung Karno hanya mengibaskan tangannya. Bung Karno langsung naik VW Kodok, satu-satunya mobil pribadi yang ia punya dan meminta sopir diantarkan ke Jalan Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati.

Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan halaman, matanya kosong. Ia meminta bendera pusaka dirawat hati-hati. Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun di halaman. 

Kadang-kadang ia memegang dadanya yang sakit, ia sakit ginjal parah namun obat yang biasanya diberikan sudah tidak boleh diberikan. Sisa obat di Istana dibuangi. 

Suatu saat Bung Karno mengajak ajudannya yang bernama Nitri gadis Bali untuk jalan-jalan. Saat melihat duku, Bung Karno kepengen duku tapi dia tidak punya uang. "Aku pengen duku, ...Tru, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang" Nitri yang uangnya pas-pasan juga melihat ke dompetnya, ia merasa cukuplah buat beli duku sekilo. 

Lalu Nitri mendatangi tukang duku dan berkata "Pak Bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil". Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke arah Bung Karno. "Mau pilih mana, Pak manis-manis nih " sahut tukang duku dengan logat betawi kental. 

Bung Karno dengan tersenyum senang berkata "coba kamu cari yang enak". Tukang Duku itu mengernyitkan dahinya, ia merasa kenal dengan suara ini. Lantas tukang duku itu berteriak "Bapak...Bapak....Bapak...Itu Bapak...Bapaak" Tukang duku malah berlarian ke arah teman-temannya di pinggir jalan" Ada Pak Karno, Ada Pak Karno...." mereka berlarian ke arah mobil VW Kodok warna putih itu dan dengan serta merta para tukang buah memberikan buah-buah pada Bung Karno. 

Awalnya Bung Karno tertawa senang, ia terbiasa menikmati dengan rakyatnya. Tapi keadaan berubah kontan dalam pikiran Bung Karno, ia takut rakyat yang tidak tau apa-apa ini lantas digelandang tentara gara-gara dekat dengan dirinya. "Tri, berangkat ....cepat" perintah Bung Karno dan ia melambaikan ke tangan rakyatnya yang terus menerus memanggil namanya bahkan ada yang sampai menitikkan air mata. Mereka tau pemimpinnya dalam keadaan susah.

Mengetahui bahwa Bung Karno sering keluar dari Jalan Sriwijaya, membuat beberapa perwira pro Suharto tidak suka. Tiba-tiba satu malam ada satu truk ke rumah Fatmawati dan mereka memindahkan Bung Karno ke Bogor. Di Bogor ia dirawat oleh Dokter Hewan!...

Tak lama setelah Bung Karno dipindahkan ke Bogor, datanglah Rachmawati, ia melihat ayahnya dan menangis keras-keras saat tau wajah ayahnya bengkak-bengkak dan sulit berdiri. 

Saat melihat Rachmawati, Bung Karno berdiri lalu terhuyung dan jatuh. Ia merangkak dan memegang kursi. Rachmawati langsung teriak menangis.

Malamnya Rachmawati memohon pada Bapaknya agar pergi ke Jakarta saja dan dirawat keluarga. "Coba aku tulis surat permohonan kepada Presiden" kata Bung Karno dengan suara terbata. Dengan tangan gemetar Bung Karno menulis surat agar dirinya bisa dipindahkan ke Jakarta dan dekat dengan anak-anaknya. 

Rachmawati adalah puteri Bung Karno yang paling nekat. Pagi-pagi setelah mengambil surat dari bapaknya, Rachma langsung ke Cendana rumah Suharto. Di Cendana ia ditemui Bu Tien yang kaget saat melihat Rachma ada di teras rumahnya.

"Lhol, Mbak Rachma ada apa?" tanya Bu Tien dengan nada kaget. Bu Tien memeluk Rachma, setelah itu Rachma bercerita tentang nasib bapaknya. Hati Bu Tien rada tersentuh dan menggenggam tangan Rachma lalu dengan menggenggam tangan Rachma bu Tien mengantarkan ke ruang kerja Pak Harto.

"Lho, Mbak Rachma..ada apa?" kata Pak Harto dengan nada santun. Rachma-pun menceritakan kondisi Bapaknya yang sangat tidak terawat di Bogor. Pak Harto berpikir sejenak dan kemudian menuliskan memo yang memerintahkan anak buahnya agar Bung Karno dibawa ke Djakarta. Diputuskan Bung Karno akan dirawar di Wisma Yaso.

Bung Karno lalu dibawa ke Wisma Yaso, tapi kali ini perlakuan tentara lebih keras. Bung Karno sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan sesuatu, suatu saat Bung Karno tanpa sengaja menemukan lembaran koran bekas bungkus sesuatu, koran itu langsung direbut dan ia dimarahi. 

Kamar Bung Karno berantakan sekali, jorok dan bau. Memang ada yang merapikan tapi tidak serius. Dokter yang diperintahkan merawat Bung Karno, dokter Mahar Mardjono nyaris menangis karena sama sekali tidak ada obat-obatan yang bisa digunakan Bung Karno.

Ia tahu obat-obatan yang ada di laci Istana sudah dibuangi atas perintah seorang Perwira Tinggi. Mahar mardjono hanya bisa memberikan Vitamin dan Royal Jelly yang sesungguhnya hanya madu biasa. Jika sulit tidur Bung Karno diberi Valium, Sukarno sama sekali tidak diberikan obat untuk meredakan sakit akibat ginjalnya tidak berfungsi.

Banyak rumor beredar di masyarakat bahwa Bung Karno hidup sengsara di Wisma Yaso, beberapa orang diketahui diceritakan nekat  membebaskan Bung Karno. 

Bahkan ada satu pasukan khusus KKO dikabarkan sempat menembus penjagaan Bung Karno dan berhasil masuk ke dalam kamar Bung Karno, tapi Bung Karno menolak untuk ikut karena itu berarti akan memancing perang saudara.

Pada awal tahun 1970 Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati. Bung Karno yang jalan saja susah datang ke rumah isterinya itu. Wajah Bung Karno bengkak-bengkak.

Ketika tau Bung Karno datang ke rumah Fatmawati, banyak orang langsung berbondong-bondong ke sana dan sesampainya di depan rumah mereka berteriak "Hidup Bung Karno....hidup Bung Karno....Hidup Bung Karno...!!!!!" 

Sukarno yang reflek karena ia mengenal benar gegap gempita seperti ini, ia tertawa dan melambaikan tangan, tapi dengan kasar tentara menurunkan tangan Sukarno dan menggiringnya ke dalam. Bung Karno paham dia adalah tahanan politik.

Masuk ke bulan Februari penyakit Bung Karno parah sekali ia tidak kuat berdiri, tidur saja. Tidak boleh ada orang yang bisa masuk. Ia sering berteriak kesakitan. Biasanya penderita penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis yang kacau. 

Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi tentara pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu tentara yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.

Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno. 

"Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik" ujar istri bung hatta.

Hatta menoleh pada isterinya dan berkata "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kami  itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini". 

Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno.

Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah.

Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda - Bagaimana pula kabarmu, Hatta - Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil.

Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada.

Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.

SUMBER: http://www.islamtoleran.com/2014/06/terusirnya-presiden-soekarno-dari.html

"BOLEH DI SHARE"

FOCUS GROUP GROUP DISCCUSSION (Pelan Panduan Pembangunan Kawasan Kampung Tradisional) -DGP Kampung Tradisional-

FOCUS GROUP GROUP DISCCUSSION
(Pelan Panduan Pembangunan Kawasan Kampung Tradisional)
-DGP Kampung Tradisional-

Matlamat FGD 3

"- MENDAPATKAN PANDANGAN/IDEA DAN PERSETUJUAN PENDUDUK MENGENAI CADANGAN ZON GUNA TANAH, INTENSITI PEMBANGUNAN DAN PANDUAN PEMBANGUNAN DIKAWASAN DGP"-

Kepentingan DGP

1- Menentukan jenis Pembangunan yg sesuai dibangunkan agar ciri-ciri kampung tradisional dapat di kekalkan
2- Menyediakan garis panduan terperinci (aspek reka bentuk bangunan, susunatur bangunan, komponen pembangunan)
3- Menyediakan kaedah perlaksanaan pembangunan bagi pemilik tanah yg ingin memajukan tanah masing2

Peranan DGP Dalam Konteks DPBRKL 2020 (Deraf Pembangunan Bandaraya Kuala Lumpur 2020)

1- Menjadi panduan kepada pemilik tanah yg ingin memajukan tanahnya sama ada secara usahsama, individu atau gabungan
2- Menjadi rujukan untuk perancangan dan pembangunan kepada semua jabatan teknikal terutama yg berkaitan infrastruktur dan utiliti.

Definisi Kampung Tradisional di KHASkan yg terlibat dengan kawasan FGD
-" Sebuah Kampung Tradisional Melayu dalam bandar yang moden (infrastruktur dan utiliti lengkap) , maju dan mengekalkan budaya hidup masyarakat Melayu, reka bentuk dan senibina Melayu serta mementingkan persekitaran mampan dan berkualiti. "-

Ciri-ciri Kg Tradisional;-

a) Kawasan Penempatan yang diwarisi orang Melayu turun temurun
b) Suasana Kg yg bercirikan konsep seni bina Melayu perlbagai puak dan keturunan
c) Mempunyai susunan rumah yg berkelompok dan teratur (INFORMAL)
d) Kebanyakan rumah tidak berpagar dan banyak ruang terbuka untuk aktiviti-aktiviti rewang gotong-royong dan kemasyarakatan ,lazimnya adalah kumpulan yg ada kaitan talian darah (saudara,sepupu,anak-buah dan sedara-mara)
e) Kawasan kampung yg dilengkapi dengan aspek infrastruktur dan utiliti yg lengkap
f) Pemilikan rumah adalah milik sendiri atau keluarga
g) kebanyakan perkampungan tradisional terjadi berdasarkan
faktor sejarah;-
i) - Permulaan sesebuah Pertempatan, penghijrahan kerana sumber bekalan, kesan peperangan atau penerokaan penempatan baru).
ii) - bukti bahawa terdapat pelbagai kemudahan telah disediakan oleh pihak berkuasa seperti dewan perbandaran, surau dan masjid, bekalan air dan elektrik, perkhidmatan telefon dan jalan-raya berturap.(belum digazet)
iii) - bahawa kampung dikawal dan ditadbir oleh Jawatan Kuasa sendiri.(terkini Persatuan Penduduk yang SAH berdaftar).
iv) Saiz tanah yg luas dan menjadi kediaman beberapa kelompok keluarga bersaudara.

CONTOH-CONTOH REKA-BENTUK yg bole dijadikan panduan ;-

1) - Rumah kediaman bunglow setingkat...rumah dan bumbung di Kg Morten , Melaka

2) - Rumah kediaman Cluster (Maksimum flat/apartment 4 tingkat) spt di Atlantik City, USA(Lima tingkat). Mont Timah, Singapura(Tiga Tingkat), Town hse di Plettenberg Bay, Africa Selatan (dua tingkat), Town house di Dong Guan City, Guangdong, China (Dua tingkat setengah), Town hse 4 tingkat, di Tmn Bukit Serdang, Kg Warisan Jln Jelatek, setiawangsa Condo 4-5 tingkat.

3) - KELAS KEGUNAAN TANAH DAN BANGUNAN
berdasarkan Deraf Pelan Bandaraya Kuala Lumpur 2020, DGP ini telah menyediakan perincian Kaedah Kelas kegunaan Tanah dan Bangunan untuk setiap Zon Guna Tanah Kampung Tradisional dan mengikut Kampung2.

4) - KAWALAN REKA BENTUK PEMBANGUNAN
Maksimum ketinggian bangunan kediaman dan komersial adalah 5 tingkat
Reka bentuk dan FASAD, bumbung dan Tingkap perlulah mempunyai ciri-ciri tradisional Melayu.

5) - SUSUN ATUR KAWASAN KEDIAMAN digalakkan berbentuk Cluster (kawasan lapang di bahgian tengah- tujuan berkumpul / bertemu / beraktiviti)

6) KELUASAN MINIMUM UNTUK PEMBANGUNAN.
a) Pembangunan kediaman di Kawasan DGP dicadangkan mempunyai keluasan Minimum 1 EKAR (satu) dan 20 - 60 unit (berdasarkan intensiti pembangunan yg di tetapkan)
b) bertujuan memastikan keperluan minimum kemudahan infrastuktur/ utiliti dan kemudahan masyarakat dapat disediakan pembangunan.

7) KEPERLUAN PENYEDIAN KEMUDAHAN MASYARAKAT
Penetapan jenmis dan bilangan kemudahan masyarakat yg perlu disediakan mengikut berdasarkan unjuran penduduk (densiti maksimum) sehingga tahun 2020.

8) KEPERLUAN PENYEDIAN INFRASTRUKTUR DAN UTILITI.
Tertakluk kepada perbincangan serta persetujuan Pemilik Tanah mengikut kesesuaian dan sewajar.

9) MEKANISMA PERLAKSANAAN

- PEMBANGUNAN TANAH BERSEPAKAT
- PROJEK USAHASAMA (PEMILIK DAN PEMAJU)
- PENUBUHAN SYARIKAT USAHASAMA (GABUNGAN PEMILIK2 TANAH)

10) IMPAK PENYEDIAAN FGD
- PENINGKATAN NILAI HARTANAH DAN JUMLAH ASET PENDUDUK MELAYU MENJADI LEBIH TINGGI
- SUASANA KAMPUNG YG LEBIH BERKUALITI
- MENIKMATI KEMUDAHAN INFRASTRUKTUR DAN UTILITI DENGAN LEBIH SELESA.

FAKTA DAN DATA SERTA MAKLUMAT DI ATAS ADALAH CADANGAN DAN INISIATIF KAJIAN YG DIBUAT BERSAMA PENGERUSI2 PERSATUAN PENDUDUK KG TRADISIONAL (GOMBAK FGD) BERSAMA JABATAN PERANCANGAN FIZIKAL (DBKL) SEJAK 2008 - 2012.
Pertanyaan hbg Mohd Amir ,
Pengerusi Gabungan Kg Tradisi WPKL
@ Pengerusi Persatuan Penduduk KG Padang Balang,Sentul, K.Lumpur
(Kg Tradisi (M)WPKL) Tel 019 - 6141524. email;- md_amirm@yahoo.com. trezabmelayu.blogspot.com / kgtradisiwpkl.blogspot.com

Wednesday, July 9, 2014

"BIAR MATI ANAK , JANGAN MATI ADAT" Simbolik Istiadat Penghulu-Penghulu Luak Menghadap

"BIAR MATI ANAK , JANGAN MATI ADAT"

Simbolik Istiadat Penghulu-Penghulu Luak Menghadap

Oleh Kurniawati Kamarudin

KUALA PILAH (Bernama) -- Istiadat Penghulu-Penghulu Luak Menghadap yang menjadi satu daripada warisan budaya dan sejarah dalam pentadbiran beraja di Negeri Sembilan dizahirkan kembali setelah hampir lima tahun tidak diadakan.

Istiadat itu, yang dimulakan sejak 1898, adalah bagi mengulang taat setia Penghulu-Penghulu Luak kepada Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan sebagai payung yang memerintah.

Penghulu Luak itu terdiri daripada Penghulu Luak Ulu Muar, Penghulu Luak Terachi, Penghulu Luak Gunung Pasir, Penghulu Luak Jempol dan Penghulu Luak Inas serta luak-luak kecil iaitu Luak Gemenceh dan Luak Air Kuning.

SEJARAH AWAL

Bertempat di Bandar Diraja Seri Menanti, kehadiran ribuan rakyat dari seluruh Negeri Sembilan serta pelancong luar memberi peluang untuk mendekati dan memahami istiadat Penghulu-Penghulu Luak Menghadap. Ia serentak dengan Pesta Persukuan Adat yang diadakan di halaman Istana Lama Seri Menanti, baru-baru ini.

Generasi tua, muda mahupun kanak-kanak datang untuk bersama-sama menyaksikan keunikan istiadat yang menjadi kebanggaan terutama pengamal dan pendukung Adat Perpatih di negeri yang mendapat jolokan Negeri Beradat.

Kali terakhir Istiadat Ulangan Penghulu-Penghulu Menghadap diadakan pada 26 Okt, 2009 semasa istiadat Pertabalan Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan sekarang, Tuanku Muhriz ibni AlMarhum Tuanku Munawir.

Mengikut sejarahnya, keputusan mengadakan istiadat Ulangan Penghulu-Penghulu Luak Menghadap ini dipersetujui dalam kalangan datuk-datuk penghulu luak pada zaman pemerintahan Tuanku Muhamad pada tahun 1898.

Ketika itu diputuskan istiadat itu akan dilaksanakan setiap tiga tahun sekali, menurut Penyelaras Adat Istiadat Istana Besar Seri Menanti, Datuk Ibrahim Jahaya.

Ujar beliau, ia melibatkan penghulu-penghulu luak tanah mengandung, iaitu penghulu yang menjaga pentadbiran wilayah adat termasuk Istana Besar Seri Menanti, tempat bersemayamnya Yang Dipertuan Besar dan Tuanku Ampuan Besar Negeri Sembilan.

Tujuannya adalah untuk memperbaharui taat setia dalam kalangan penghulu luak yang dipilih oleh anak buah dalam kawasan pentadbiran adat masing-masing, katanya.

"Setelah dilantik oleh anak buah, ada istiadat menyempurnakan perlantikan itu dengan datuk penghulu datang menghadap kepada tuanku serta melafazkan taat setia untuk menjaga pentadbiran adat di luak masing-masing.

"Setiap tiga tahun sekali mereka perlu datang menghadap kepada Tuanku untuk memperbaharui ikrar taat setia itu yang dipanggil Istiadat Ulangan Penghulu-Penghulu Luak Menghadap," katanya.

ATUCARA ISTIADAT

Selama tiga hari, Istana Besar Seri Menanti menerima kedatangan pemimpin-pemimpin adat yang mewakili anak buah (rakyat), kerabat-kerabat raja yang lengkap berpakaian istiadat, berbaju Melayu, bertanjak serta keris di pinggang.

Ia dimulakan dengan istiadat menurunkan alat-alat kebesaran.

Menurut Ibrahim, ia menjadi satu tatacara wajib yang harus dilakukan setiap kali berlakunya istiadat di Istana Besar Seri Menanti yang melibatkan Yang Dipertuan Besar.

Istiadat dimulakan setelah Yang Dipertuan Besar berkenan untuk menepung tawar dan memeriksa setiap alat kebesaran yang diletakkan di ruang tengah Istana Besar Seri Menanti.

Alat-alat kebesaran itu terdiri daripada lapan payung kuning, lapan keris panjang, lapan pedang panjang, empat panji-panji kuning, dua panji-panji merah, dua panji-panji hitam dan lapan tombak berambu.

Setelah mendapat titah perkenan tuanku, Pegawai 99 yang diketuai Datuk Setia Bijaya kemudian akan memasang alat kebesaran berkenaan di halaman istana.

Baginda turut sama menyaksikan istiadat pemasangan alat kebesaran itu dengan diiringi penghulu-penghulu luak.

Setelah kesemua payung kebesaran dikembangkan, tiga das tembakan meriam dilepaskan bagi menandakan istiadat menurun dan memasang alat kebesaran selamat disempurnakan, katanya.

ISTIADAT BERSIRAM

Pada hari kedua, Istiadat Bersiram pula dijalankan di Panca Persada yang terletak di luar kawasan Istana Besar Seri Menanti. Selain dihadiri Putera Yang Empat, kerabat-kerabat diraja dan kenamaan kerajaan, masyarakat di sekitar Negeri Sembilan turut tidak melepaskan peluang untuk menyaksikan istiadat penuh sejarah itu.

Ia dimulakan dengan Yang Dipertuan Besar, Tuanku Mukhriz dan Tuanku Ampuan Besar Negeri Sembilan, Tuanku Aishah Rohani Tengku Besar Mahmud, dihela (ditarik) menaiki kenderaan khas Takhta Rencana dari istana ke Panca Persada, sejauh kira-kira 400 meter.

Pegawai 99 yang didahului Datuk Setia Bijaya bersama 20 Pegawai 99 di hadapan, 20 orang di belakang serta 20 orang setiap kiri dan kanan ditugaskan menghela kedua-dua baginda.

Di atas Takhta Rencana pula, tuanku berdua bersemayam dengan diapit kiri dan kanan oleh Datuk Laksamana II yang memegang Padang Sebarau Bujang dan Datuk Kanda Maharaja memegang keris senawi. Manakala Datuk Mangku memegang Payung Kuning dan Datuk Bentara Perempuan membawa kipas keemasan.

Perarakan pada pagi itu, didahului kumpulan rebana sambil bersalawat, kemudian diikuti Pegawai 99 yang membawa alat kebesaran diraja serta dituruti pembawa cepu bedak limau oleh Datuk Raja Penghulu bersama Datuk Menti Laksamana.

Sebaik perarakan dimulakan, tembakan meriam sebanyak lapan das dilepaskan sehingga sampai ke Panca Persada dan tuanku berdua naik ke singgahsana.

Upacara dimulakan dengan Datuk Raja Penghulu yang membawa cepu bedak limau menyerahkannya kepada Datuk Menti Laksamana untuk diletakkan di atas meja di hadapan Yang Dipertuan Besar dan Tuanku Ampuan Besar.

Orang Empat Istana kemudian memulakan tujuh pusingan sambil membawa cepu bedak limau dengan mengelilingi tuanku berdua. Selesai pusingan itu, cepu bedak limau dipersembahkan kepada tuanku berdua dimulai oleh Datuk Seri Amar Diraja, Datuk Raja Diwangsa, Datuk Penghulu Dagang dan Datuk Akhir zaman secara bergilir-gilir dan tuanku berdua mencelup tangan setiap kali dipersembahkan.

Selesai istiadat itu, lapan das tembakan meriam dilepaskan bagi mengiringi perarakan keberangkatan balik tuanku berdua menaiki Takhta Rencana.

Ibrahim berkata mungkin ramai yang beranggapan adat bersiram itu sama seperti adat bersiram ketika majlis perkahwinan. Hakikatnya sangat berbeza, yang mana adat bersiram semasa perkahwinan dikenali sebagai adat bersiram mandi-manda. Manakala adat bersiram yang dijalankan oleh tuanku berdua adalah sebagai acara simbolik bagi menyucikan diri.

ISTIADAT MENGHADAP

Hari ketiga pula berlangsungnya kemuncak keseluruhan Istiadat Ulangan Penghulu-Penghulu Menghadap yang diadakan secara tertutup di Balairong Seri Istana Besar Seri Menanti.

Yang Dipertuan Besar dan Tuanku Ampuan yang bersemayam di singgahsana diapit oleh Tuanku Besar Seri Menanti dan Tuanku Muda Serting di sebelah kanan manakala Tuanku Laksamana, Tuanku Panglima Besar di sebelah kiri.

Sebaik Datuk Bentara Dalam mengisytiharkan istiadat Penghulu Luak dizahirkan, sebanyak 11 das tembakan meriam dilepaskan.

Datuk Penghulu Luak Ulu Muar mendahului menghadap dengan berkesot naik sebanyak tujuh tangga ke singgahsana. Apabila sampai di atas sekali, beliau mencium tangan Yang Dipertuan Besar sebanyak tiga kali sebelum berkesot untuk turun dari singgahsana.

Lafaz kemudian dibacakan dengan menzahirkan taat setia tidak berbelah bahagi kepada Yang Dipertuan Besar sebagai payung adat dan negeri.

Upacara itu kemudian dituruti oleh penghulu-penghulu Luak Terachi, Luak Gunung Pasir, Luak Inas dan Luak Jempol serta Luak Gemenceh dan Air Kuning.

"Inilah acara kemuncaknya bagi Istiadat Ulangan Penghulu-Penghulu Luak Menghadap yang cukup istimewa serta perlu dihayati sebagai tanda taat setia rakyat kepada raja.

"Nilai-nilai ini yang ingin diterapkan terutama kepada generasi muda hari ini dalam usaha memperkenalkan keindahan Adat Perpatih," katanya.

PENGALAMAN BAHARU

Bukan sahaja generasi muda, kebanyakan masyarakat di Negeri Sembilan semakin hari meminggirkan Adat Perpatih dalam kehidupan mereka.

Tidak menghairankan, ada segelintir di beberapa daerah di Negeri Sembilan telah hilang identii adat dan budaya yang dipegang selama ini.

Bagi Shahara Akmal Shahril, 19, dari Kampung Terachi, Pesta Persukuan Adat dan Istiadat Ulangan Penghulu-Penghulu Luak Menghadap yang diadakan itu memberi satu pendedahan baharu mengenai nilai-nilai murni serta keunikan yang terdapat dalam Adat Perpatih.

"Saya datang ke sini untuk mengetahui lebih lagi tentang Adat Perpatih. Saya rasa orang di Negeri Sembilan yang mengamalkan Adat Perpatih patut berbangga dengan adat dan budaya yang dimiliki.

"Persepsi negatif masyarakat luar terhadap Adat Perpatih disebabkan ketidakfahaman mengenai adat itu. Pendedahan melalui Pesta Persukuan Adat dan istiadat yang dijalankan ini sedikit sebanyak boleh membuka mata dan menjelaskannya", katanya.

Sementara itu, seorang daripada pelancong dari Medan, Indonesia, Syafizal S.Sos yang berpeluang menyaksikan istiadat bersiram turut mengakui keunikan adat yang dirasakan dekat di hatinya.

Keramahan masyarakat di sini membuatkan beliau seperti berada di kampung halaman sendiri selain adat dan istiadat yang tidak banyak berbeza.

"Memang tidak jauh seni dan budaya yang ada di Negeri Sembilan. Istiadat yang ada cukup indah dan unik untuk dikongsi bersama pelancong yang datang," katanya.

-- BERNAMA

ADAKAH ORANG MELAYU JUGA PENDATANG DI TANAH MELAYU SAMA SEPERTI KAUM CINA DAN INDIA?

ADAKAH ORANG MELAYU JUGA PENDATANG DI TANAH MELAYU
SAMA SEPERTI KAUM CINA DAN INDIA?

JAWAPAN:

Tidak. Orang Melayu memang merupakan penduduk asal Malaysia
(sebelumnya Tanah Melayu) dan kajian arkeologi dan mtDNA mengesahkan kewujudannya di Benua Sunda sejak lebih 60 ribu tahun yang lalu lagi.
Tidak timbul soal orang asli merupakan penduduk asal di negara ini kerana pemetaan genetik dan artifak arkeologi juga telah mendapati bahawa masyarakat Orang Asli Semang dan Senoi yang mendiami Benua Sunda adalah merupakan nenek moyang kepada populasi Melayu Proto dan ras Melayu hari ini.

Kajian itu telah dibuat oleh penyelidik Universiti Sains Malaysia yang diketuai oleh Prof Madya Dr Zafarina Zainuddin.
Kajian mtDNA oleh pakar genetik Universiti Oxford, Dr Stephen Oppenheimer juga mengesahkan tentang perkara ini.

SIAPA ITU ORANG MELAYU?

1. SIAPA ITU ORANG MELAYU?

JAWAPAN:

Definisi orang Melayu terbahagi kepada tiga iaitu:
(i) etnik atau suku, (ii) bangsa dan (iii) ras atau rumpun.

(i) Etnik atau suku Melayu
- seperti mana penakrifan dalam konteks Indonesia —
Suku Melayu ialah penduduk pribumi Indonesia yang ketiga teramai selepas Suku Jawa dan Suku Sunda.
- Mereka banyak mendiami kawasan pesisiran timur Sumatera, Kepulauan Riau-Lingga dan Kalimantan Barat.
- Walaupun suku Melayu hanya mewakili hanya 3.4% penduduk Indonesia, namun Bahasa Melayu menjadi bahasa rasmi negara tersebut dan dikenali sebagai Bahasa Indonesia.

(ii) Bangsa Melayu seperti mana penakrifan dalam konteks Malaysia .
- Dalam Perlembagaan Malaysia;-
- Melayu ditakrifkan sebagai orang yang menganuti agama Islam, lazim bercakap Bahasa Melayu, menurut adat Melayu.
- Sebelum kemerdekaan Tanah Melayu, bangsa Melayu terdiri daripada suku dan keturunan yang dibahagikan kepada Melayu Anak Jati (suku atau subetnik-subetnik Melayu Semenanjung seperti Melayu Kelantan, Melayu Kedah, Melayu Perak, Melayu Terengganu dan lain-lain),
- Melayu Anak Dagang (subetnik Melayu Sumatera, suku atau etnik Jawa, Sunda, Minangkabau, Bugis, Banjar dan lain-lain) dan
- Melayu Peranakan (kacukan Melayu-India, Melayu-Cina, Melayu-Arab, Melayu-Turki dan lain-lain).
- Di samping itu, keturunan lain yang bukan dari rumpun Melayu turut diterima sebagai orang Melayu (bukan kaum pendatang) sekiranya mereka beragama Islam serta berasimilasi dengan bahasa dan budaya Melayu.
Mereka ini telah meninggalkan sebahagian besar adat resam keturunan mereka dan membuang identiti tanah asal mereka serta taat setia dengan Tanah Melayu dan politik nasionalisme Melayu.;-
- Contohnya keturunan Hadramaut, Kerala, Peshawar dan Istanbul.
- Suku atau etnik dari rumpun Melayu seperti Kadazan-Dusun, Bajau, Iban, Melanau, Kedayan dan sebagainya di Sabah dan Sarawak yang beragama Islam juga merupakan bangsa Melayu.

(iii) Ras atau rumpun Melayu seperti mana penakrifan ahli sejarah,
ahli antropologi, ahli arkeologi dan pakar genetik —

Ia adalah istilah yang diguna pakai oleh penyelidik dan UNESCO merujuk kepada penduduk asal di Semenanjung dan Gugusan Kepulauan Melayu yang kini dikenali sebagai Alam Melayu atau the Malay World:-

- Ia adalah konsepsi budaya yang tidak menjadikan agama Islam sebagai salah satu takrifan Melayu seperti orang Filipina, etnik Batak atau Bali dan penduduk asal di Pulau Taiwan dikategorikan sebagai “rumpun Melayu”.
- Salah satu unsur persamaan mereka ialah bertutur dalam bahasa dari cabang atau rumpun bahasa induk Austronesia atau Melayu-Polinesia.

- Kumpulan-kumpulan yang tergolong dalam ras atau rumpun Melayu itu termasuklah:-
- penduduk pribumi Pulau Taiwan yang bukan dari bangsa Han (China),
- etnik Cham dan beberapa suku bangsa asal-pribumi di Semenanjung
Indo-China (Vietnam dan Kemboja),
- etnik keturunan Melayu Patani di Thailand,
- seluruh penduduk asal di Malaysia, Filipina, Indonesia, Singapura dan Brunei serta suku bangsa Merina di Pulau Malagasi (Madagascar).
- Saudara terdekat kepada rumpun atau ras Melayu itu ialah bangsa Polinesia yang tersebar secara meluas di Kepulauan Pasifik sehingga ke Pulau Hawaii, New Zealand, dan lain-lain lagi, dipercayai berasal dari Alam Melayu dan mempunyai akar bahasa yang sama, iaitu Austronesia.

Thursday, February 20, 2014

KOPERASI USAHAWAN ALFAFA KUALA LUMPUR BERHAD



KOPERASI USAHAWAN ALFAFA
KUALA LUMPUR BERHAD

1     Pengenalan..


Tarikh Daftar ; - 3hb Apr 2011  tarikh lulus 5hb Mei 2011.
Bil Daftar ; - W-4-0690 Ruj; SKM.IP.(PEND)W-633/(I)
Jenis Koperasi ; - Koperasi ASAS dengan Liabiliti Terhad.(subseksyen 7(1) Akta Koperasi 1993

2     MATLAMAT ,FUNGSI DAN AKTIVITI.

2.1     Matlamat , menurut subseksyen 4(1) Akta, matlamat Koperasi ini ialah untuk meningkatkan kepentingan ekonomi anggotanya mengikut prinsip koperasi.

2.2     Fungsi Koperasi ini ialah ‘Perkhidmatan’

2.3     Aktiviti –aktiviti Koperasi;-

a.      Menjalankan aktiviti ‘Pelancongan’

b.      Menjalankan aktiviti ‘Pendidikan’

c.      Menjalankan aktiviti berkaitan kepengunaan dan melahirkan usahawan minimarket atau pasaraya yang berlandaskan syariah.

d.      Menjalankan aktiviti kebajikan dan Pendidikan Anggota
e.      Membeli ,menjual,memindahkan hak milik,mendirikan,menyewa,mencagar,memajak,mengadai dan memiliki harta alih dan tak alih.
f.       Melaburkan Wang berlebihan dalam perkara yang dibenarkan menurut seksyen 54 akta
g.      Mengadakan subsidiari menurut seksyen 19 Akta dengan kelulusan Suruhanjaya
h.      Menyertai usahasama dan menjadi anggota kepada koperasi yang Lain.

2.4    Anggota Koperasi dan kelayakan.

a.      Mendaftar dan menyertai serta menandatangani kehadiran setiap Mesyuarat Agung Koperasi
b.      Terbuka kepada ‘pekerja kerajaan’ ,’swasta ‘ dan ‘Usahawan Kecil’ Yang beragama ‘Islam’.
c.      Kretaria Pemohon ;-
d.      Warganegara Malaysia
e.      Telah mencapai umur lapan belas (18) tahun
f.       Bermastautin atau mempunyai hartanah atau bekerja dalam kawasan Koperasi ini.
g.      Bayaran Fee Masuk ; RM 10.00 (Sepuluh Ringgit) Sekira permohonan ditolak akan dipulangkan.
h.      Bukan seorang yang terhadapnya masih berkuatkuasa suatu ‘sabitan bagi kesalahan’ yang boleh daftar, atau tidak upaya dari segi mental, atau bankrap yang belum dijelaskan, atau pernah dibuang daripada keanggotaan mana-mana koperasi dalam tampuh satu(1) tahun.
i.       Menurut seksyen 28 Akta, ‘Perolehan hak,kewajipan dan liabiliti anggota’ tertakluk kepada bayaran RM 100.00(seratus) dijelaskan oleh setiap Ahli Koperasi




3.     KEMUDAHAN PINJAMAN KOPERASI KEPADA ANGGOTA UNTUK MENYERTAI PROGRAM ‘PERUMAHAN ALFAFA’

a)     Pemohon adalah ahli Koperasi Usahawan Alfafa Kuala Lumpur Berhad.
b)     Memiliki syer ‘hak,kewajipan dan liabiliti’ di dalam koperasi Minima RM 10,000.00 (Sepuluh Ribu)
c)     Disertakan dokumen sokongan
d)     Insuran pinjaman dibayar berasingan (Tertakluk Jumlah Pinjaman)
e)     Bayaran Pengurusan adalah 6 % setahun (maksimum 10 tahun), bayaran Ansuran rujuk carta.
f)      Kelulusan tertakluk kepada AJK Pinjaman Koperasi dalam tempoh 2 minggu selepas borang permohonan diterima oleh AJK tersebut.

hbg ;-
alfafa group berhad ;-
cawangan labuan  : Mohd Amir - 013 8666 796 / 019 6141 524
HQ : Mohd Hazwani -
03 6186 2539/2532, 03 6188 2532 ,
012 985 4138/014 230 3524