Candi Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman?
Membaca judul diatas, tentu banyak orang yang akan mengernyitkan dahi, sebagai tanda ketidakpercayaannya. Bahkan, mungkin demikian pula dengan Anda. Sebab, Nabi Sulaiman AS adalah seorang utusan Allah yang diberikan keistimewaan dengan kemampuannya menaklukkan seluruh makhluk ciptaan Allah, termasuk angin yang tunduk di bawah kekuasaannya atas izin Allah. Bahkan, burung dan jin selalu mematuhi perintah Sulaiman.
Menurut Sami bin Abdullah al-Maghluts, dalam bukunya Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, Nabi Sulaiman diperkirakan hidup pada abad ke-9 Sebelum Masehi (989-931 SM), atau sekitar 3.000 tahun yang lalu. Sementara itu, Candi Borobudur sebagaimana tertulis dalam berbagai buku sejarah nasional, didirikan oleh Dinasti Syailendra pada akhir abad ke-8 Masehi atau sekitar 1.200 tahun yang lalu. Karena itu, wajarlah bila banyak orang yang mungkin tertawa kecut, geli, dan geleng-geleng kepala bila disebutkan bahwa Candi Borobudur didirikan oleh Nabi Sulaiman AS.
Candi Borobudur merupakan candi Budha. Berdekatan dengan Candi Borobudur adalah Candi Pawon dan Candi Mendut. Beberapa kilometer dari Candi Borobudur, terdapat Candi Prambanan, Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Plaosan, dan lainnya. Candi-candi di dekat Prambanan ini merupakan candi Buddha yang didirikan sekitar tahun 772 dan 778 Masehi.
Lalu, apa hubungannya dengan Sulaiman? Benarkah Candi Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman yang hebat dan agung itu? Apa bukti-buktinya? Benarkah ada jejak-jejak Islam di candi Buddha terbesar itu? Tentu perlu penelitian yang komprehensif dan melibatkan berbagai pihak untuk membuktikan validitas dan kebenarannya.
Namun, bila pertanyaan di atas diajukan kepada KH Fahmi Basya, ahli matematika Islam itu akan menjawabnya; benar. Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman yang ada di tanah Jawa.
Dalam bukunya, Matematika Islam 3 (Republika, 2009), KH Fahmi Basya menyebutkan beberapa ciri-ciri Candi Borobudur yang menjadi bukti sebagai peninggalan putra Nabi Daud tersebut. Di antaranya, hutan atau negeri Saba, makna Saba, nama Sulaiman, buah maja yang pahit, dipindahkannya istana Ratu Saba ke wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman, bangunan yang tidak terselesaikan oleh para jin, tempat berkumpulnya Ratu Saba, dan lainnya.
Dalam Alquran, kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Saba disebutkan dalam surah An-Naml [27]: 15-44, Saba [34]: 12-16, al-Anbiya [21]: 78-81, dan lainnya. Tentu saja, banyak yang tidak percaya bila Borobudur merupakan peninggalan Sulaiman.
Di antara alasannya, karena Sulaiman hidup pada abad ke-10 SM, sedangkan Borobudur dibangun pada abad ke-8 Masehi. Kemudian, menurut banyak pihak, peristiwa dan kisah Sulaiman itu terjadi di wilayah Palestina, dan Saba di Yaman Selatan, sedangkan Borobudur di Indonesia.
Tentu saja hal ini menimbulkan penasaran. Apalagi, KH Fahmi Basya menunjukkan bukti-buktinya berdasarkan keterangan Alquran. Lalu, apa bukti sahih andai Borobudur merupakan peninggalan Sulaiman atau bangunan yang pembuatannya merupakan perintah Sulaiman?
Menurut Fahmi Basya, dan seperti yang penulis lihat melalui relief-relief yang ada, memang terdapat beberapa simbol, yang mengesankan dan identik dengan kisah Sulaiman dan Ratu Saba, sebagaimana keterangan Alquran. Pertama adalah tentang tabut, yaitu sebuah kotak atau peti yang berisi warisan Nabi Daud AS kepada Sulaiman. Konon, di dalamnya terdapat kitab Zabur, Taurat, dan Tingkat Musa, serta memberikan ketenangan. Pada relief yang terdapat di Borobudur, tampak peti atau tabut itu dijaga oleh seseorang.
"Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: 'Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman'." (QS Al-Baqarah [2]: 248).
Kedua, pekerjaan jin yang tidak selesai ketika mengetahui Sulaiman telah wafat. (QS Saba [34]: 14). Saat mengetahui Sulaiman wafat, para jin pun menghentikan pekerjaannya. Di Borobudur, terdapat patung yang belum tuntas diselesaikan. Patung itu disebut dengan Unfinished Solomon.
Ketiga, para jin diperintahkan membangun gedung yang tinggi dan membuat patung-patung. (QS Saba [34]: 13). Seperti diketahui, banyak patung Buddha yang ada di Borobudur. Sedangkan gedung atau bangunan yang tinggi itu adalah Candi Prambanan.
Keempat, Sulaiman berbicara dengan burung-burung dan hewan-hewan. (QS An-Naml [27]: 20-22). Reliefnya juga ada. Bahkan, sejumlah frame relief Borobudur bermotifkan bunga dan burung. Terdapat pula sejumlah relief hewan lain, seperti gajah, kuda, babi, anjing, monyet, dan lainnya.
Kelima, kisah Ratu Saba dan rakyatnya yang menyembah matahari dan bersujud kepada sesama manusia. (QS An-Naml [27]: 22). Menurut Fahmi Basya, Saba artinya berkumpul atau tempat berkumpul. Ungkapan burung Hud-hud tentang Saba, karena burung tidak mengetahui nama daerah itu. "Jangankan burung, manusia saja ketika berada di atas pesawat, tidak akan tahu nama sebuah kota atau negeri," katanya menjelaskan. Ditambahkan Fahmi Basya, tempat berkumpulnya manusia itu adalah di Candi Ratu Boko yang terletak sekitar 36 kilometer dari Borobudur. Jarak ini juga memungkinkan burung menempuh perjalanan dalam sekali terbang.
Keenam, Saba ada di Indonesia, yakni Wonosobo. Dalam Alquran, wilayah Saba ditumbuhi pohon yang sangat banyak. (QS Saba [34]: 15). Dalam kamus bahasa Jawi Kuno, yang disusun oleh Dr Maharsi, kata 'Wana' bermakna hutan. Jadi, menurut Fahmi, wana saba atau Wonosobo adalah hutan Saba.
Ketujuh, buah 'maja' yang pahit. Ketika banjir besar (Sail al-Arim) menimpa wilayah Saba, pepohonan yang ada di sekitarnya menjadi pahit sebagai azab Allah kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya. "Tetapi, mereka berpaling maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar[1236] dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr." (QS Saba [34]: 16).
Kedelapan, nama Sulaiman menunjukkan sebagai nama orang Jawa. Awalan kata 'su'merupakan nama-nama Jawa. Dan, Sulaiman adalah satu-satunya nabi dan rasul yang 25 orang, yang namanya berawalan 'Su'. Kesembilan, Sulaiman berkirim surat kepada Ratu Saba melalui burung Hud-hud. "Pergilah kamu dengan membawa suratku ini." (QS An-Naml [27]: 28). Menurut Fahmi, surat itu ditulis di atas pelat emas sebagai bentuk kekayaan Nabi Sulaiman. Ditambahkannya, surat itu ditemukan di sebuah kolam di Candi Ratu Boko.
Kesepuluh, bangunan yang tinggal sedikit (Sidrin qalil). Lihat surah Saba [34] 16). Bangunan yang tinggal sedikit itu adalah wilayah Candi Ratu Boko. Dan di sana terdapat sejumlah stupa yang tinggal sedikit. "Ini membuktikan bahwa Istana Ratu Boko adalah istana Ratu Saba yang dipindahkan atas perintah Sulaiman," kata Fahmi menegaskan.
Selain bukti-bukti di atas, kata Fahmi, masih banyak lagi bukti lainnya yang menunjukkan bahwa kisah Ratu Saba dan Sulaiman terjadi di Indonesia. Seperti terjadinya angin Muson yang bertiup dari Asia dan Australia (QS Saba [34]: 12), kisah istana yang hilang atau dipindahkan, dialog Ratu Bilqis dengan para pembesarnya ketika menerima surat Sulaiman (QS An-Naml [27]: 32), nama Kabupaten Sleman, Kecamatan Salaman, Desa Salam, dan lainnya. Dengan bukti-bukti di atas, Fahmi Basya meyakini bahwa Borobudur merupakan peninggalan Sulaiman.
Sumber FB Group: Atlantis Indonesia
Thursday, February 10, 2011
apa dia GENERASI RABBANNI
"Generasi Rabbani", Generasi Anti Kekerasan
Dalam beberapa tahun terakhir, terutama pasca-tsunami di Aceh dan sekitar yang disusul dengan berbagai bencana di beberapa daerah di Tanah Air, paling tidak ada dua "penderitaan" yang dialami oleh bangsa Indonesia, khususnya anak-anak.
Pertama, kemiskinan konvensional. Penderitaan anak-anak Indonesia disebabkan orangtuanya miskin secara ekonomi. Kekurangan sandang, pangan, dan papan menyertai kehidupan sehari-harinya. Usia yang mestinya mereka gunakan untuk belajar di sekolah-sebagaimana yang dialami anak-anak pada umumnya-mereka gunakan untuk membantu orangtuanya mencari nafkah.
Kedua, menderita karena musibah. Pasca-tsunami di Aceh dan sekitarnya, di beberapa daerah di Tanah Air diterpa bencana berupa kekeringan, banjir, gempa, gunung meletus, dan lain-lain. Inilah deretan peristiwa yang datang tiba-tiba. Kerugian yang ditimbulkannya tidak hanya menimpa orang-orang miskin, tetapi juga orang kaya. Anak-anak yang semula berlimang kesenangan dalam "pelukan" orangtua yang ekonominya mapan, tiba-tiba jatuh miskin. Sedikit banyak, bencana-bencana itu menimbulkan keprihatinan dan trauma. Secara psikologis, perasaan dan ketenteraman jiwa anak-anak akan terganggu.
Fitrah Manusia
Dua "penderitaan" yang kini dialami oleh anak-anak Indonesia harus segera diatasi agar perkembangan dan pertumbuhannya berjalan normal, terutama soal pendidikannya. Mereka harus dilatih dan dididik menurut minat dan bakat. Anak-anak harus disiapkan menjadi penerus perjuangan bangsa dengan berbagai ketererampilan yang kelak bisa menopang kehidupannya. Menyiapkan generasi muda yang tangguh merupakan kewajiban orangtua dan seluruh komponen bangsa. Bahkan kita harus khawatir jika kelak meninggalkan generasi yang lemah, baik mental maupun moralnya (QS An-Nisa [4]: 9).
Dalam ayat lain disebutkan bahwa mencintai anak dan harta benda merupakan fitrah manusia serta anak dan harta yang "disalehkan" akan bisa dipetik manfaatnya (QS Al-Kahfi [18]: 46). Itu semua merupakan tabungan yang akan kita dapatkan kelak di akhirat. Harta yang disedekahkan dan anak-anak yang didik menjadi saleh akan menjadi kebajikan yang sangat istimewa. Keistimewaan anak saleh terletak pada doa dan permohonan ampun mereka untuk kedua orangtuanya. Lain halnya dengan anak yang durhaka. Mereka bukannya akan mengangkat kedudukan orangtua, malah jadi beban pertanggungjawaban kelak di akhirat.
Dalam Al-Quran terdapat kisah mengenai cita-cita dan harapan istri Imran terhadap anaknya ketika masih dalam kandungan (QS Ali Imran [3]: 35). Nazar mulia istri Imran adalah tekadnya untuk menjadikan anak yang dikandungnya kelak itu lahir, akan ia jadikan muharrar, seorang anak saleh, yang tidak disibukkan oleh persoalan-persoalan duniawi, tetapi secara khusus mengonsentrasikan diri mendalami agama ("ulama"). Inilah sebuah cita-cita dan harapan orangtua yang patut kita teladani. Oleh karena itu, di antara sekian banyak anak yang kita miliki, salah satunya harus ada yang mengkhususkan diri untuk mempelajari agama.
Generasi Rabbani
Generasi yang memiliki ilmu yang memadai dan kepribadian yang saleh, dalam bahasa Al-Quran itu disebut "generasi rabbani" (QS Ali Imran [3]: 79). Tidak banyak memang orang yang mampu menyiapkan generasi berilmu dan bertakwa. Bahkan banyak yang mengabaikan. Banyak orang yang bercita-cita memiliki generasi yang baik, yang bisa melanjutkan perjuangan membangun bangsa dan negara, namun sedikit sekali yang sukses. Langkah-langkah mendidik anak yang sehat jasmani dan sehat rohaninya, paling tidak bisa kita temukan dari pola yang diterapkan oleh Luqman Al-Hakim. Ia adalah seorang bijak yang namanya diabadikan dalam Al-Quran berkat nasihat-nasihatnya terhadap anaknya.
Ada empat langkah yang ditempuh Luqman Al-Hakim dalam mendidik anak, yaitu:
(a) menanamkan dan memantapkan nilai-nilai akidah serta terbebas dari kemusyrikan. ini adalah landasan utama keberagamaan generasi kita (QS Luqman [31]: 13),
(b) menyuruh berbuat baik kepada orang tua (QS Luqman [31]: 14),
(c) menyuruh salat dan menganjurkan bersabar dalam beramar makruf nahi munkar (QS Luqman [31]: 17), dan
(d) menanamkan sikap-sikap dan perangai terpuji, seperti tidak boleh sombong dan angkuh baik dalam ucapan maupun tindakan (QS Luqman [31]: 18-19).
Itulah dasar-dasar dan tahapan-tahapan pendidikan yang diajarkan Luqman kepada anaknya. Semuanya itu memang sangat sistematis. Mulai dari yang utama, yaitu mengenai dasar-dasar keimanan, hingga akhlak sehari-hari, cara berjalan dan bertutur kata. Jika seorang anak telah memiliki dasar iman yang kuat dan sifat-sifat pribadi yang terpuji, maka generasi rabbani yang kita dambakan akan terwujud. Dengan demikian, masa depan bangsa hanya dapat dipercayakan kepada anak-anak yang cerdas, terampil dan bermoral. Jika selama ini pendidikan hanya berorientasi pada kecerdasan dan keterampilan, harus ditambah dengan orientasi pada keluruhan budi pekerti. Sebab, carut marutnya bangsa ini bukan karena manusia Indonesia tidak cerdas atau tidak terampil, tetapi karena sedikitnya orang yang bermoral atau punya nurani. Penekanan pada pendidikan yang bermoral agama menjadi sangat penting dan karena itu pula, cita-cita istri Imran dan pola pendidikan terhadap anak yang dipraktikkan Lukman seperti yang telah dijelaskan di atas patut kita teladani dan terapkan. Generasi kaum Muslim yang dapat dijadikan panutan dan dambaan umat masa depan adalah mereka menguasai iptek, kuat imtak, dan anti-kekerasan.
Perancangan Perniagaan menurut Rasullullah
Hadits dan Ekonomi
Sekilas terasa sedikit aneh jika kita menggandengkan antara Hadis Rasul yang selalu dikenal sebagai acuan kita dalam beribadah dengan ekonomi yang lebih condong kepada keduniaan. Keterasingan ini memang memiliki alasan tersendiri karena umat Islam Indonesia pada khususnya dan umat Islam global pada umumnya terlalu lama dipaksa atau terpaksa memisahkan Islam dari segenap kehidupan bisnis dan ekonominya. Namun jika ditelusuri lebih dalam, banyak sekali nilai yang disampaikan oleh Rasulullah berkaitan erat dengan upaya peningkatan taraf hidup masyarakat guna tercipta moslem society yang berperadaban dan memiliki ekonomi maju.
1. Rasulullah mengenalkan istilah itqan yang lebih tepat jika diterjemahkan dengan profesionalitas. Kita dituntut untuk mampu bersaing di kancah perekonomian dunia yang semakin hari semakin mengglobal dan tanpa batas. Kita akan terpuruk oleh desakan negara-negara maju jika kita tidak memiliki profesionalitas tinggi dan selalu mengandalkan tenaga profesional asing dan barang impor.
2. Rasulullah juga melarang umatnya hidup dengan cara « konsumtif /berlebihan». Ini juga termasuk yang paling vital dalam membangun taraf hidup masyarakat. Sebab cara hidup yang berlebihan membuat manusia tidak mampu memilah kebutuhan dan mengklompokkannya ke dalam skala prioritas.
3. Hidup yang produktif. Rasulullah menganjurkan umatnya untuk selalu bekerja untuk keduniaan seolah-olah kita akan hidup selama-lamanya. Beliau menggandengkan 3 kata yaitu ; kerja keduniaan, hidup dan selama-lamanya (masa depan) yang berarti, kita tidak hanya dituntut untuk bekerja, tapi bekerja yang menghasilkan (produktif) dan berwawasan ke depan.
4. Rasulullah menganjurkan kita untuk membagi perut menjadi 3 bagian, 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk minuman dan 1/3 lagi untuk pernafasan. Anjuran ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi jika kita terapkan dalam kehidupan finansial seseorang. Penghasilan kita hendaknya dibagi kepada 3 yaitu, 1/3 untuk kebutuhan primer, 1/3 untuk kebutuhan skunder dan 1/3 untuk menabung (bernafas/kebutuhan insidentil).
5. Beliau juga mewanti-wanti kita agar tidak terjerat hutang, dan berupaya semaksimal mungkin untuk segera melunasi. Bahkan dalam sebuah haditsnya beliau mengajarkan kita untuk meminta perlindungan Allah SWT dari sifat pengecut, bakhil, lemah, pemalas dan terbelit hutang. Pesan ini jika benar-benar direnungkan olah penguasa negeri kita tercinta, Indonesia akan mampu melepaskan diri dari krisis ekonomi yang melanda. Sebab faktor utama penyebab terpuruknya Indonesia ke dalam krisis ekonomi yang berkepanjangan, adanya tunggakan hutang yang berupa dolar, sementara rupiah jatuh pada posisi yang paling rendah sepanjang sejarah.
6. Rasulullah juga menganjurkan kita untuk berpetualang, menjelajahi dunia dan mengenal bahasa asing sebagai anjuran agar kita memiliki orientasi ekspor dalam berdagang. Hal ini tidak hanya dianjurkan beliau dalam kata-kata, namun dibuktikan dalam perbuatan saat beliau berdagang dari Mekkah ke Syam dengan membawa dagangan saudagar « Khadidjah ». Pesan ini juga hendaknya menjadi renungan kita, sebab menurut catatan Econit pada semester awal 2001 laju pertumbuhan impor Indonesia tak kurang dari 30 persen sementara pertumbuhan ekspor hanya 7-8 persen. Adanya net ekspor yang negatif ini sangat berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada umumnya (Republika, 5/9/2001).
7. Baginda Rasul juga melarang kita membiarkan lahan terbengkalai, mati tanpa dimanfaatkan dengan bercocok tanam. Bahkan lahan yang belum dikenal pemiliknyapun boleh kita tanami, selagi belum ada yang mengakui kepemilikannnya. Ironis sekali, Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan yang sangat luas, namun ternyata untuk kebutuhan sehari-hari saja masih mengimpor dari luar.
8. Beliau juga menganjurkan kita berbisnis, bahkan dalam hadits beliau yang dikutip Mawardi « usaha yang paling diberkati Allah adalah berdagang ». Dan ini terbukti, bisnis adalah lahan yang paling menguntungkan dan menjanjikan.
Masih banyak prinsip-prinsip ekonomi yang gariskan oleh Rasulullah lewat hadits-hadits beliau yang tidak mungkin dijabarkan dalam artikel kecil, namun perlu dibahas lebih mendalam oleh ekonom-ekonom yang berwawasan keislaman. Wallahu a’lam
antara Usaha , doa dan pasrah
Pada deskripsi singkat tadi, apakah hanya dengan berusaha kita bisa meraih target yang diinginkan? Adakah unsur-unsur lain yang sekiranya penting diperhatikan dalam menyikapi derasnya angan, keinginan, harapan dan cita-cita? Sebab, bukankah kita sering mendengar kabar kegagalan seorang negarawan dalam menjalankan tugasnya, padahal dia telah mencurahkan segala kemampuan. Atau kita sering mendengar kabar buruk para pelajar dalam menghadapi ujian, padahal mereka telah belajar maksimal, bahkan kita juga sering mendengar cerita orang-orang yang frustasi dan berakhir dengan bunuh diri akibat depresi saat menghadapi kegagalan. Disinilah ajaran Islam datang memberikan solusi atas fenomena di atas, dalam Islam kita dikenalkan anjuran berdo’a dan berpasrah di samping kita dituntut untuk berusaha.
Makna berusaha:
“Dan katakanlah; bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu” (Qs. at Taubah: 105), spirit berusaha dan berikhtiar terkandung dalam ayat ini. perintah untuk bekerja artinya perintah untuk berusaha keras dalam menggapai suatu tujuan baik duniwai maupun ukhrowi.
Berusaha adalah langkah pertama yang harus dijadikan pijakan seorang muslim dalam meraih sejuta impian dan harapan, tanpa unsur “usaha” jangan berharap orang akan bisa mewujudkan keinginannnya. Rasulullah Saw sebagai suri tauladan telah memberi contoh konkrit dalam hal ini, yaitu dengan terjun berbisnis sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidupnya.
artinya, Allah SWT tidak akan merubah keadaan kita selama kita tidak berusaha merubah sebab-sebab kemunduran. Kalaupun terjadi “kesuksesan” tanpa dilalui dengan proses usaha, maka hal itu termasuk dalam katagori anugerah khusus dari Allah, bagaimanapun jika Allah SWT berkehendak maka tidak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi.
Makna berdo’a:
Dalam segala aktivitas, kita dianjurkan untuk berdo’a memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah SWT. al Qur’an menjelaskan;“Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku” (Qs. al Baqarah: 186).
Menjadi jelaslah bahwa Allah akan mendengar setiap permintaan para hamba-Nya, dan bahkan akan mengabulkan segala permintaanya.
Namun, apa yang dimaksud dengan pengabulan setiap do’a di sini? Apakah Allah akan menuruti setiap permintaan kita (sesuai bentuk, kualitas dan kuantitas) dari apa yang kita inginkan saat berdo’a, atau memiliki makna yang lebih luas? Pakar tafsir Muhamad bin Ali as Syaukani (w: 1250 H) dalam bukunya fath al Qadir menjelaskan; pengabulan do’a bisa seketika, bisa juga ditunda, bisa sesuai dengan apa yang terlintas saat berdo’a, atau bentuk lain yang lebih bermanfaat bagi si pendo’a Rasulullah Saw bersabda:
Makna berpasrah:
Di antara ayat al Qur’an yang menjelaskan tentang urgensi tawakkal (berpasrah) bagi pribadi muslim dalam menjalani kehidupan adalah firman Allah dalam surat at Talaq:
Kesimpulan:
Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa; dalam menjalani kehidupan di alam fana, kita dianjurkan berusaha keras untuk merealisasikan keinginan dan cita-cita, hal ini tentunya dibarengi dengan berdo’a memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah SWT, kemudian apapun hasil dari usaha keras yang telah kita curahkan, semuanya kita kembalikan kepada Allah SWT. Saat usaha kita berhasil kita tidak lupa daratan, begitu juga saat usaha gagal, kita tidak dihinggapi rasa frustasi dan kekecewaan. Yang demikian inilah sebagai bentuk penyelarasan antara tiga hal yang ditekankan dalam ajaran Islam; yaitu berusaha, berdo’a dan berpasrah.
Makna berusaha:
“Dan katakanlah; bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu” (Qs. at Taubah: 105), spirit berusaha dan berikhtiar terkandung dalam ayat ini. perintah untuk bekerja artinya perintah untuk berusaha keras dalam menggapai suatu tujuan baik duniwai maupun ukhrowi.
Berusaha adalah langkah pertama yang harus dijadikan pijakan seorang muslim dalam meraih sejuta impian dan harapan, tanpa unsur “usaha” jangan berharap orang akan bisa mewujudkan keinginannnya. Rasulullah Saw sebagai suri tauladan telah memberi contoh konkrit dalam hal ini, yaitu dengan terjun berbisnis sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidupnya.
إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Qs. ar Ra’d : 11)
artinya, Allah SWT tidak akan merubah keadaan kita selama kita tidak berusaha merubah sebab-sebab kemunduran. Kalaupun terjadi “kesuksesan” tanpa dilalui dengan proses usaha, maka hal itu termasuk dalam katagori anugerah khusus dari Allah, bagaimanapun jika Allah SWT berkehendak maka tidak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi.
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya; jadilah ! maka terjadilah” (Qs. Yasin : 82)
Makna berdo’a:
Dalam segala aktivitas, kita dianjurkan untuk berdo’a memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah SWT. al Qur’an menjelaskan;“Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku” (Qs. al Baqarah: 186).
Menjadi jelaslah bahwa Allah akan mendengar setiap permintaan para hamba-Nya, dan bahkan akan mengabulkan segala permintaanya.
إِنَّ اللّهَ لاَ يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji” (Qs. Ali Imran: 9)
Namun, apa yang dimaksud dengan pengabulan setiap do’a di sini? Apakah Allah akan menuruti setiap permintaan kita (sesuai bentuk, kualitas dan kuantitas) dari apa yang kita inginkan saat berdo’a, atau memiliki makna yang lebih luas? Pakar tafsir Muhamad bin Ali as Syaukani (w: 1250 H) dalam bukunya fath al Qadir menjelaskan; pengabulan do’a bisa seketika, bisa juga ditunda, bisa sesuai dengan apa yang terlintas saat berdo’a, atau bentuk lain yang lebih bermanfaat bagi si pendo’a Rasulullah Saw bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ الله َبِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيْهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيْعَةُ رَحْمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثِ خِصَالٍ: إِمَّا أَنْ يَجْعَلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يُدَخٍّرَ لَهُ فِيْ الآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يُصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوْءِ مِثْلَهَا.
“Tidak ada seorang muslim yang berdo’a memohon kepada Allah, yang do’anya tidak mengandung unsur dosa dan pemutusan hubungan persaudaraan, kecuali Allah akan mengabulkan dengan tiga kemungkinan; memberikan apa yang dinginkan, disimpan (pahalanya) hingga di alam akhirat, atau diselamatkan dari bahaya yang mengancam“. (HR. Bukhori).
Makna berpasrah:
Di antara ayat al Qur’an yang menjelaskan tentang urgensi tawakkal (berpasrah) bagi pribadi muslim dalam menjalani kehidupan adalah firman Allah dalam surat at Talaq:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرً
“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya, sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (Qs. at Talaq: 3)
Dikisahkan, sufi besar Ibrahim bin Adham bertemu dengan seorang pemuda yang tampak gelisah, beliau berkata: saya akan bertanya tentang tiga hal: 1- apakah ada sesuatu di alam ini terjadi tanpa kehendak dari Allah?, Pemuda menjawab: tidak ada. 2- apakah rizkimu bisa berkurang dari apa yang telah ditetapkan oleh Allah?, Pemuda menjawab: tidak, 3- apakah ajalmu bisa berkurang dari tanggal yang telah ditetapkan oleh Allah? Pemuda menjawab: tidak mungkin, kemudian Ibrahim bin Adham berkata: kalau begitu kamu harus mengkhawatirkan apa? Namun, tawakal (berpasrah) harus diposisikan setelah proses usaha dan berdo’a, hal ini sebagai antisipasi agar kita tidak berburuk sangka terhadap Allah SWT (atas segala ketetapan-Nya), dengan berpasrah saat menunggu hasil jerih payah dan usaha keras, kita diarahkan kepada dua hal positif, yaitu; bersyukur saat menemukan kesuksesan, dan bersabar saat menghadapi kegagalan. Di sinilah Rasulullah Saw bersabda: “saya kagum dengan keadaan orang Islam, semuanya istimewa; ketika sukses mereka bersyukur, dan ketika gagal mereka bersabar” (HR. Muslim).
Kesimpulan:
Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa; dalam menjalani kehidupan di alam fana, kita dianjurkan berusaha keras untuk merealisasikan keinginan dan cita-cita, hal ini tentunya dibarengi dengan berdo’a memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah SWT, kemudian apapun hasil dari usaha keras yang telah kita curahkan, semuanya kita kembalikan kepada Allah SWT. Saat usaha kita berhasil kita tidak lupa daratan, begitu juga saat usaha gagal, kita tidak dihinggapi rasa frustasi dan kekecewaan. Yang demikian inilah sebagai bentuk penyelarasan antara tiga hal yang ditekankan dalam ajaran Islam; yaitu berusaha, berdo’a dan berpasrah.
“Biarkan waktu berlalu dengan segala suka dukanya, lapangkan jiwa dalam menghadapi keputusan Tuhan. Janganlah bersedih karena kejadian yang menyakitkan, sebab segala peristiwa di dunia tidak ada yang kekal. Dan jadilah dirimu manusia yang kebal terhadap cobaan dan ancaman, namun sikap perilakumu tetap pemaaf dan setia“ (Imam Syafi’I (w: 204 H) )
Wallahu A’lam
Wallahu A’lam
Doa yg mustajab
Berdoalah….!!!
Allah berfirman dalam al Qur`an:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ... غافر: 60
"Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan…" (Ghafir 60).
Banyak ayat-ayat dalam al-Qur`an yang memerintahkan kepada kita untuk berdoa kepada Allah SWT. Karena secara naluri, ketika seseorang mengenali dengan sesungguhnya akan kelemahan dirinya, dan menyadari serta meyakini akan adanya Dzat yang Maha Kuasa, maka ia tidak akan segan-segan untuk selalu meminta dan berdoa kepada Dzat yang Maha Kuasa tersebut. Justru sebaliknya, sangat sombong ketika ada seseorang yang enggan bahkan tidak pernah menengadahkan tangannya untuk meminta dan berdoa.
Ketika seorang mukmin berdoa, maka doanya tidak akan pernah sia-sia dan pasti akan dikabulkan, sebagaimana janji Allah yang disebutkan pada ayat di awal pembuka tulisan ini. Dalam beberapa referensi disebutkan, bahwa Allah SWT mengabulkan doa seorang mukmin melalui tiga cara. Pertama; Allah mengabulkan doa seperti yang diminta. Tidak jarang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, doa yang kita panjatkan akhirnya dikabulkan persis seperti apa yang kita minta atau yang kita harapkan. Kedua; Allah mengabulkan doa tidak seperti yang diminta, namun menggantinya dengan yang lebih baik dari yang diminta. Doa-doa yang dipanjatkan, terkadang membuat seseorang bertanya-tanya, mengapa doaku tidak kunjung dikabulkan? Namun Allah Maha Tahu, bahwa ada yang lebih baik dari apa yang dimintanya, lalu Allah mengabulkan doanya dengan memberikan yang lebih baik dari apa yang dimintanya. Ketiga; bahwa doa-doa yang dipanjatkan tidak akan sia-sia begitu saja, kalau memang doa-doa yang dipanjatkan itu tidak dikabulkan di dunia, maka Allah akan menggantinya dengan balasan-balasan kebaikan nanti di akhirat. Oleh karena itu, jangan enggan untuk berdoa, menengadahkan kedua tangan untuk meminta kepada Allah SWT.
Orang yang Berdoa Harus Suci Lahir Bathin.
Dua hal yang harus diperhatikan dalam berdo`a adalah, bahwa orang yang berdoa sebisa mungkin untuk suci lahir dan batin. Suci dari segala macam dosa dan maksiat. Sebab dosa dan maksiat yang masih dilakukan akan menjadi penghalang doa itu untuk dikabulkan Allah SWT. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasululah SAW dalam sebuah sabdanya:
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء : يا رب يا رب ! و مطعمه حرام و مشربه حرام و ملبسه حرام و غذي بالحرام فأنى يستجاب لذلك (رواه مسلم
Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bercerita tentang seseorang yang dalam perjalanan panjang lalu memanjatkan tangannya ke langit sambil berdoa mengucap, "Ya Tuhan. Ya Tuhan". Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan mengkonsumsi barang yang haram. Bagaimana doanya bisa dikabulkan? (HR Muslim).
Antara yang Diminta dan yang Diberikan.
Ketika kita berdoa dan meminta kepada Allah SWT, tentu kita meminta sesuatu yang menurut pandangan subjektif kita dirasa sangat dibutuhkan. Namun kita pun jangan melupakan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui segala yang tertutup dari mata kita. Bisa jadi Allah SWT sebelumnya akan memberikan musibah kepada kita yang kita tidak sadari, lalu tiba-tiba kita meminta sesuatu yang lain. Maka atas kebijakan-Nya, Dia tidak memberikan apa yang kita minta melainkan membatalkan musibah yang seharusnya Dia timpakan. Dan tentu hal itu jauh lebih bermanfaat buat kita tanpa kita sadari. Atau boleh jadi ketika Allah SWT mengabulkan doa kita, ternyata pemberian-Nya bukan akan semakin membuat kita dekat kepada-Nya, justru yang terjadi sebaliknya semakin menjauh. Misalnya seseorang berdoa minta rezqi yang banyak dan terus mengalir. Bukan Allah SWT pelit tidak mau memberi, namun sangat boleh jadi bila harta itu diberikan, kita justru tidak pernah berdoa lagi kepada-Nya, semakin jauh dari-Nya dan semakin lupa kepada-Nya. Maka Allah SWT membiarkan kita miskin agar selalu ingat dan zikir serta meminta kepada-Nya. Hingga sampai batas waktu tertentu barulah Allah SWT mengabulkannya.
10 sebab doa kita tidak dikabulkan.
Seorang ulama dan raja di masa keemasan Islam, bernama Ibrahim bin Adham, dengan dikelilingi sekian ratus pengawalnya, ia mengadakan inspeksi ke pasar-pasar rakyat di daerah kekuasaannya. Tiba-tiba salah seorang pengunjung pasar mendekatinya dan berkata, "Wahai paduka raja, mengapa do’a kami tidak dikabulkan oleh Allah? Padahal Allah berfirman dalam Al Qur’an, “Ud’uuni astajiblakum” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu).
Ibrahin bin Adham menjawab, “Sesungguhnya hatimu telah dimatikan dengan sepuluh perkara, yaitu :
1. Engkau beriman kepada Allah, mengetahui Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya. Maka, tidak ada mamfaatnya keimananmu itu. Apa kewajiban kamu kepada Allah, yaitu kamu mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya
2. Engkau mengatakan beriman kepada Rasul-Nya, tetapi engkau menentang sunnahnya dan mematikan syari’atnya. Maka, apalagi buah dari keimananmu itu?
3. Engkau membaca Al Qur’an yang diturunkan melalui Rasul-Nya, tetapi tidak kau amalkan isi al Qur`an yang telah kamu baca itu, bukankah dalam al Qur`an banyak berisi petunjuk untuk kebahagiaan hidupmu di dunia dan akhirat, tapi engkau tidak mengamalkannya. Engkau berkata, "Sami’na wa aththa’na" (Kami mendengar dan kami patuh), tetapi kau tentang ayat-ayatnya.
4. Engkau menginginkan dan mengharapkan syurga, bercita-cita syurga akan menjadi tempat tinggal terakhir kamu, tetapi setiap waktu melakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari syurga. Maka, mana bukti keinginanmu itu?
5. Engkau berikrar bahwa takut akan neraka Allah SWT. tapi sebaliknya prilaku engkau di dunia justru menjerumuskan kamu ke neraka yang menyala-nyala itu.
6. Setiap saat engkau merasakan kenikmatan dan anugerah yang diberikan oleh Allah, tetapi tetap engkau tidak bersyukur kepada-Nya, justru malah menggunakan nikmat itu untuk bermaksiat kepada Allah.
7. Allah memerintahkanmu agar memusuhi syetan seraya berkata, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh bagi(mu) karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Al Faathir [35] : 6). Tetapi kamu tidak musuhi syetan dan justru malah bersahabat dengannya.
8. Kalian sibuk mengurus kejelekan orang lain, dan lupa mengurus aib diri kamu sendiri. Bagaimana mungkin doamu akan diterima.
9. Setiap kali ada yang meninggal di antara kamu, kamu hantarkan jenazah merek, namun tidak sedikitpun pelajaran yang kau ambil dari jenazah yang baru kamu hantar.
10. Kamu meyakini bahwa kematian itu ada, namun apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapi kematian itu. Sejauh mana bekal yang akan kau bawa untuk menghadapi kematian yang pasti akan datang pada setiap seorang di antara kamu.
Nah, bagaimana mungkin do’amu diterima, padahal engkau telah menutup seluruh pintu dan jalan do’a tersebut dikabulkan. Bertaqwalah kepada Allah, ikhlaskan amalmu, bersihkan batinmu, dan lakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nanti Allah akan mengijabah do’amu itu.
__________________________
Kami Redaksi Sayyidul Ayyam dan Keluarga Besar PPI Maroko mengucapkan, "Selamat kepada Sdr. Ahmad Ridho al Rasyidi al Mundziri telah menyelesaikan studi Program Strata 3 (Doktoral) di Kulliyah Adab wa al Ulum al Insaniyah Muhammad V Agdal Rabat, semoga ilmunya bermanfaat, Amien".
masa ibarat pedang yg tajam
DON’T CRY OVER SPILT MILK
Oleh: Yulima Ozeni Yusnita S.Ag
“Jangan disesali apa yang telah terjadi” itulah kira-kira arti ungkapan di atas. Apa yang telah terjadi tak perlu disesali karena sudah terlanjur terjadi, kita tak kan pernah bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu. Kita takkan pernah bisa mengembalikan waktu muda kita, semuanya sudah berlalu hanya tinggal kenangan baik ataupun buruk. Karena salah satu sifat waktu menurut DR.Yusuf Qardhawi adalah bila sudah berlalu,tak kan pernah bisa kembali.
Betapa berharganya waktu! sampai Allah banyak bersumpah dengan waktu di dalam Al-Qur’an. Ini bisa kita lihat di dalam surat Al-Lail ayat 1-2, surat Adh-Dhuha ayat 1-2, surat Al-Fajr ayat 1-2, surat Asy-Syams ayat 1-2, surat Al-Ashr ayat 1 dan surat Al-Insyiqaq ayat 16. Waktu adalah nikmat Allah yang termahal yang diberikan kepada kita. Di dalam seluruh ritual Islam juga banyak berhubungan dengan waktu seperti sholat,puasa, zakat ataupun haji harus dilaksanakan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh Allah.
Waktu, adalah kekayaan berharga yang diberikan Allah kepada kita. Bukankah pepatah Inggris mengatakan time is money, dan orang Arab mengatakan al-waktu kassaif in lam taqthaqhu qathaaka (Waktu itu seperti pedang, Jika anda tidak memakainya untuk memotong, dia akan memotong anda). Betapa banyak orang yang menyesali waktu muda mereka ketika sudah tua. Ada sebuah cerita tentang seorang bapak tua yang menangis ketika masuk mesjid, dia melihat beberapa anak muda di dalamnya. Ketika ditanya mengapa dia menangis,dia mengaku selama ini tidak terbiasa shalat di mesjid kecuali setelah berusia lanjut. Ketika dia melihat mereka yang masih muda, dia menyesali telah menyia-nyiakan umurnya. Syukurlah si bapak tua bukan hanya menyesali,tapi dia mau berbuat meskipun terlambat untuk mengejar ketinggalannya.
Hasan Al-Bashri, seorang tabiin setiap terjaga dari tidurnya di pagi hari, dia akan menyeru: “Hai manusia,aku adalah harimu yang baru yang menjadi saksi atas perbuatanmu. Pergunakanlah dengan baik dan jadikanlah bekalmu. Sebab bila aku telah pergi,aku tidak akan pernah kembali hingga hari kiamat.”
Betapa mulianya agama kita yang mengajarkan pemeluknya untuk menghargai waktu, sayang banyak sekali yang menyia-yiakannya. Mereka hanya menghabiskan waktu di kafe-kafe, atau menghabiskan waktu dengan percuma. Mari renungkan hadits Rasulullah Saw “Pada hari kiamat tidak seorangpun hamba yang diprkenankan meninggalkan posisinya kecuali setelah ditanya tentang lima perkara. Tentang penggunaan umurnya, masa mudanya, kekayaannya darimana ia peroleh dan untuk apa ia gunakan dan apa yang ia lakukan terhadap ilmunya.” (HR. At-Tirmidzi : 2416)
Kita lihat bagaimana generasi terdahulu begitu menghargai waktu. Banyak dari mereka yang berumur singkat, tapi diabadikan sejarah hingga ratusan tahun. Usamah bin Zaid memimpin pasukan muslimin ketika masih berusia 16 tahun. Muhammad Al-Fatih berusia 23 tahun sudah berhasil menaklukan konstantinopel yang mempunyai pertahanan yang sangat kuat. Kemudian Sa’d bin Mu’adz yang memeluk Islam diumur 30 tahun kemudian wafat di umur 37 tahun, dengan waktu 7 tahun begitu banyak sumbangsih yang diberikan untuk Islam, sampai ketika dia meninggal Rasulullah berkata ”Arsy bergetar sebab kematian Sa’d bin Mu’adz” (HR.Muslim:6295). Imam An-Nawawi,pengarang kitab “Riyad Ash-Shalihin” meninggal saat berusia 40 tahun dan belum sempat menikah sebab kesibukannya dengan ilmu. Dia telah mengarang 500 buah buku. Sedang Ibnu ‘Aqil telah menulis buku besar “Al-Funun” dengan jumlah 800 jilid, Ibnu Rajab telah menulis lebih dari 2.000 jilid buku, yang bila dibagi seluruh karyanya dengan usianya, ternyata Ibnu Rajab menulis 9 buah buku perharinya.
Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah menyisihkan waktu kita untuk beramal sholeh dan memberikan sumbangsih untuk Islam? Saat ini kita sedang berlomba dengan waktu untuk mengumpulkan bekal dengan berbuat kebaikan. Simaklah hadits Rasulullah Saw : “ Bersegeralah melakukan aktivitas kebajikan sebelum dihadapkan pada tujuh rintangan. Akankah kalian menunggu kefakiran yang menyusahkan, kekayaan yang melupakan, penyakit yang menggerogoti, penuaan yang menidak mampukan, kematian yang niscaya, ataukah dajjal, kejahatan terburuk yang pasti datang atau bahkan kiamat yang amat dahsyat?”(HR.At-Tirmidzi)
Semua yang disebutkan Rasulullah dalam hadits di atas sudah pasti akan datang. Jangan sampai kita hanya menyesali, karena sesalan takkan berguna. Don’t cry over spilt milk! Karena setiap kita akan mempertanggung jawabkan apa yang telah kita perbuat di dunia.
“demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. AL-Asr:1-3)
Wallahu’A’lam
RATU BALKIS DITAWAN OLEH SULAIMAN TANPA TUMPAH DARAH
Ratu Saba' : Kisah Dan Ibrah
Oleh : Iman Mursalin
(Burung Hudhud berkata kepada Nabi Sulaiman):
Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita [Ratu Balqis] yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang megah.
Banyak kisah yang bisa diambil sebagai pelajaran -‘ibrah- juga hikmah di setiap lembar halaman Al-Quran. Sebagian besar bercerita tentang kaum terdahulu yang ingkar terhadap penyembahan Allah sebagai Tuhan Yang Esa. Lalu bagaimana kaum itu dimusnahkan oleh adzab Allah setelah datang kepada mereka risalah keimanan yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul.
Dan di antara sekian banyak kisah dalam Al-Quran, tersebutlah kisah Ratu Saba dan masyarakatnya yang hidup di zaman kenabian Nabi Sulaiman. Kisah ini agak unik mengingat kaum ini merupakan satu di antara segelintir kisah tentang orang-orang yang mau beriman kepada Allah dengan sepenuh hati. Dan lebih jauh lagi, banyak pelajaran penting yang bisa dipetik dari kisah ini.

Kerajaan Saba
Kerajaan Saba merupakan salah satu kerajaan kuno terbesar di daerah Yaman yang hadir pada jauh sebelum Masehi dan sebelum Islam disebarkan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Ibu kotanya adalah Ma’rab, sebuah kota di dekat Sana’a. Saking besarnya kekuasaan kerajaan ini, para sejarawan menyimpulkan bahwa luas daerah wilayahnya lebih luas dari wilayah Yaman sekarang. Banyak ahli yang menyebutkan bahwa Habasyah yang sekarang dikenal dengan Etiopia dahulunya masuk ke dalam kawasan kekuasaan kerajaan Saba.
Yang menjadikan kerajaan ini masuk ke dalam catatan sejarah Al-Quran adalah adanya salah satu ratu yang memerintahnya. Walaupun Al-Quran tidak secara pasti menyebutkan siapa nama ratu tersebut, di kalangan sejarawan dan umat Islam pada umumnya dikenal sebuah nama: Balqis. Namun banyak di antara ahli tafsir yang mengatakan bahwa nama tersebut masuk ke kalangan umat Islam dengan media israiliyyaat, dongeng turun temurun orang Israel yang mereka akui bersumber dari kitab Taurat.
Ratu Saba’
Terlepas dari hal itu, Balqis menjadi orang ketujuh-belas yang memerintah kerajaan Saba’. Yang memerintah sebelumnya adalah ayahnya, raja Hadhad bin Syarhabil. Para sejarawan berasumsi bahwa Balqis menaiki tahta menggantikan ayahnya disebabkan tidak adanya anak putra yang dilahirkan untuk menggantikannya.
Dalam masa pemerintahannya sebagai kepala kerajaan, Balqis banyak menerima cobaan dan ujian berat. Semua itu kelak membuktikan kepiawaiannya sebagai ratu yang berhak dan berkompeten untuk memimpin kaum dan rakyatnya. Pada awal diangkatnya sebagai ratu, para ahli dan pembesar kaumnya meingingkari kepemimpinan seorang wanita. Belum lagi hasrat yang dipendam oleh raja-raja di sekitar Saba untuk menaklukkan dan menguasai kerajaan ini. Salah satunya adalah raja ‘Amr bin Abrahah yang dijuluki dengan Dzul Adz’ar.
Maka datanglah Dzul Adz’ar dengan segenap bala tentaranya untuk menaklukkan kerajaan Saba’ dan menawan ratunya. Namun berkat kelihaian dan pengawasan yang tajam yang dimiliki Balqis, dia berhasil lolos dan kabur dengan penyamaran dalam pakaian orang badui. Pada point ini para sejarawan berbeda pendapat mengenai lanjutan kisahnya. Namun mereka semua sepakat bahwa dengan kecerdikan, kematangan jiwa dan ketabahan yang terdapat dalam dirinya, Balqis akhirnya dapat merebut kembali kerajaannya.
Dzul Adz’ar tewas dengan gorokan pisau di lehernya. Dan semenjak itu Balqis memerintah kaumnya dengan penuh hikmah, adil dan bijaksana. Dalam kekuasaannya, Saba meraih kegemilangan. Salah satu capaian yang diukir oleh Balqis adalah direnovasinya bendungan yang terkenal sad Ma’rab. Nama kerajaan ini menjadi terkenal di kawasan Arabia dan sebagian Eropa. Dalam sejarah Yunani kuno disebutkan bahwa pada zamannya terjadi transaksi perdagangan di antara tajir-tajir Saba dan Yunani. Bahkan para pedagang Yunani yang telah mengunjungi kerajaan Saba menyebutkan bahwa masyarakat Saba merupakan masyarakat berperadaban paling maju di era itu.
Ratu Saba dan Nabi Sulaiman
Pada saat kerajaan Saba di bawah pemerintahan ratunya sedang berada dalam puncak kegelimangan, Nabi Sulaiman alaihissalam telah menjadi salah satu raja terkenal di antara bani Israil di kawasan Palestina (Syam). Sulaiman dikaruniai Allah kemampuan untuk berkomunikasi dan menaklukkan golongan hewan dan jin. Oleh karena itu tidak mengherankan jika dari skala bala tentara, jumlah yang dimiliki Sulaiman lebih besar daripada bala tentara Saba.
Kisah ini tersebut dalam firman Allah surat An-Naml ayat 20-44. Alkisah –dalam sebuah penafsiran- bahwa pada suatu kesempatan Nabi Sulaiman mengutus burung Hudhud untuk mencari sumber air tambahan. Lama tak jua kembali ternyata Hudhud sampai ke daerah Yaman dan menemukan sebuah kaum (rakyat Saba) yang diperintah oleh seorang ratu. Yang menarik perhatian Hudhud adalah ketika dilihatnya kaum ini musyrik dengan menyembah matahari seraya berkorban sesajen kepadanya.
Nabi Sulaiman naik pitam sebab keterlambatan ini dan berjanji akan menghukum Hudhud sesegeranya ia tiba, kecuali Hudhud terlambat dengan alasan yang masuk akal. Maka berkata Hudhud sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran:
“Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini” Q.S. An-Naml: 22
Nabi Sulaiman yang terkenal dengan kematangan akal dan hikmahnya tidak merespon kecuali dengan berkata: "Akan kita lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta”. Lalu Nabi Sulaiman mengirimkan sebuah surat kepada Balqis ratu Saba yang berisi ajakan untuk hanya menyembah Allah S.W.T.
Isi surat Nabi Sulaiman ini tertera dalam Quran sebagai berikut: “
Dari SuIaiman dan sesungguhnya dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri"
Balqis dan Musyawarah
Manakala ratu Balqis menerima dan membaca surat dari Sulaiman, segera ia kumpulkan para menteri dan para pembesar di antara kaumnya. Balqis meminta agar mereka memusyawarahkan perihal surat Sulaiman ini. Hal ini diabadikan oleh Al-Quran sebagaimana Balqis berkata: "Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)"
Saat itu kerajaan Saba telah terkenal di antara raja-raja lainnya sebagai salah satu kerajaan terkuat dengan bala tentaranya yang tangguh. Maka para menteri ketika membaca surat itu menganggap bahwa Sulaiman meremehkan mereka. Maka para menteri itu berkata: "Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu. Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan". Hal ini mengisyaratkan bahwa mereka lebih memilih perang daripada berserah diri kepada kekuasaan Sulaiman.
Namun ternyata Balqis memiliki pandangan yang lebih jauh ke depan, tatkala dia berkata bahwa raja-raja apabila memasuki suatu negeri niscaya mereka membinasakannya. Dan mereka menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina, dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Disini letak kepiawaian dan kecerdasan Balqis. Dia lebih menganjurkan untuk terlebih dahulu mengirimkan hadiah kepada Sulaiman, dengan harapan semoga Sulaiman bisa lunak hatinya bahkan berubah pikiran sama sekali. Para pembesar menyetujui usulan Balqis. Maka diutuslah beberapa pembesar untuk menghadap Sulaiman seraya membawa persembahan hadiah.
Sesampainya para utusan di depan Sulaiman, utusan Allah ini berkata: "
Apakah patut kamu mengulurkan harta kepadaku? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada mereka sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya”
Maka tatkala Balqis mendengar jawaban yang disampaikan para utusannya, tahulah ia siapa dan betapa kuatnya Sulaiman dan bala tentaranya. Maka dikumpulkannyalah seluruh tentara dan pengawal pribadinya untuk menuju Syam demi menemui Sulaiman.
Sementara itu ketika Sulaiman mengetahui bahwa Balqis akan dating, beliau kumpulkan semua pembesarnya seraya meminta untuk mendatangkan singgasana Balqis ke Syam sebelum mereka datang. Alhasil, seorang pembesar yang memiliki pengetahuan mendalam akan Taurat menyanggupi untuk mendatangkannya sebelum Nabi Sulaiman berkedip. Setelah itu dimintanya agar singgasana itu dirubah sedemikian rupa agar Balqis tidak mengenalinya. Hal ini untuk menguji sejauh mana kecerdikan dan ketajaman Balqis sehingga ia memang patut untuk memerintah kaumnya.
Ketika Balqis dan tentaranya sampai dan telah duduk di singgasananya sendiri, Nabi Sulaiman bertanya: “Seperti inikah singgasanamu?” Maka Balqis menjawab: "Seakan-akan singgasana ini singgasanaku” Dan ini bukti lain dari kecerdikan Balqis, sebab ketika ia menjawab dengan pertanyaan itu sesungguhnya dia tidak yakin bahwa bagaimana mungkin singgasana dapat berpindah tempat dalam waktu yang begitu cepat. Namun dalam keraguan itu dia tidak memungkiri bahwa singgasana itu mirip dengan kepunyaannnya. Dan memang sesungguhnya singgasana adalah miliknya hanya telah dirubah atas perintah Sulaiman.
Pada saat yang sama Balqis segera teringat akan sebuah kenabian yang menyebutkan bahwa akan datang padanya seorang nabi Allah yang sanggup memindahkan singgasananya dalam sekejap mata. Pada saat itulah Balqis segera sadar bahwa dirinya dan kaumnya telah berlaku zalim dengan mempersekutukan Allah. Saat itu pula Balqis menyeru seluruh kaumnya untuk memeluk agama yang dibawa oleh Sulaiman.
Berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam"
Pada akhirnya, kisah ratu Saba dan Nabi Sulaiman ini akan selalu abadi di dalam Al-Quran hingga ke akhir zaman. Hal ini tidak lain agar setiap ulil albab yang membacanya bisa mengambil ‘ibrah dan pelajaran-pelajaran berharga.
Oleh : Iman Mursalin
(Burung Hudhud berkata kepada Nabi Sulaiman):
Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita [Ratu Balqis] yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang megah.
Banyak kisah yang bisa diambil sebagai pelajaran -‘ibrah- juga hikmah di setiap lembar halaman Al-Quran. Sebagian besar bercerita tentang kaum terdahulu yang ingkar terhadap penyembahan Allah sebagai Tuhan Yang Esa. Lalu bagaimana kaum itu dimusnahkan oleh adzab Allah setelah datang kepada mereka risalah keimanan yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul.
Dan di antara sekian banyak kisah dalam Al-Quran, tersebutlah kisah Ratu Saba dan masyarakatnya yang hidup di zaman kenabian Nabi Sulaiman. Kisah ini agak unik mengingat kaum ini merupakan satu di antara segelintir kisah tentang orang-orang yang mau beriman kepada Allah dengan sepenuh hati. Dan lebih jauh lagi, banyak pelajaran penting yang bisa dipetik dari kisah ini.

Beginikah wajah Puteri Balkis?
Kerajaan Saba
Kerajaan Saba merupakan salah satu kerajaan kuno terbesar di daerah Yaman yang hadir pada jauh sebelum Masehi dan sebelum Islam disebarkan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Ibu kotanya adalah Ma’rab, sebuah kota di dekat Sana’a. Saking besarnya kekuasaan kerajaan ini, para sejarawan menyimpulkan bahwa luas daerah wilayahnya lebih luas dari wilayah Yaman sekarang. Banyak ahli yang menyebutkan bahwa Habasyah yang sekarang dikenal dengan Etiopia dahulunya masuk ke dalam kawasan kekuasaan kerajaan Saba.
Yang menjadikan kerajaan ini masuk ke dalam catatan sejarah Al-Quran adalah adanya salah satu ratu yang memerintahnya. Walaupun Al-Quran tidak secara pasti menyebutkan siapa nama ratu tersebut, di kalangan sejarawan dan umat Islam pada umumnya dikenal sebuah nama: Balqis. Namun banyak di antara ahli tafsir yang mengatakan bahwa nama tersebut masuk ke kalangan umat Islam dengan media israiliyyaat, dongeng turun temurun orang Israel yang mereka akui bersumber dari kitab Taurat.
Ratu Saba’
Terlepas dari hal itu, Balqis menjadi orang ketujuh-belas yang memerintah kerajaan Saba’. Yang memerintah sebelumnya adalah ayahnya, raja Hadhad bin Syarhabil. Para sejarawan berasumsi bahwa Balqis menaiki tahta menggantikan ayahnya disebabkan tidak adanya anak putra yang dilahirkan untuk menggantikannya.
Dalam masa pemerintahannya sebagai kepala kerajaan, Balqis banyak menerima cobaan dan ujian berat. Semua itu kelak membuktikan kepiawaiannya sebagai ratu yang berhak dan berkompeten untuk memimpin kaum dan rakyatnya. Pada awal diangkatnya sebagai ratu, para ahli dan pembesar kaumnya meingingkari kepemimpinan seorang wanita. Belum lagi hasrat yang dipendam oleh raja-raja di sekitar Saba untuk menaklukkan dan menguasai kerajaan ini. Salah satunya adalah raja ‘Amr bin Abrahah yang dijuluki dengan Dzul Adz’ar.
Maka datanglah Dzul Adz’ar dengan segenap bala tentaranya untuk menaklukkan kerajaan Saba’ dan menawan ratunya. Namun berkat kelihaian dan pengawasan yang tajam yang dimiliki Balqis, dia berhasil lolos dan kabur dengan penyamaran dalam pakaian orang badui. Pada point ini para sejarawan berbeda pendapat mengenai lanjutan kisahnya. Namun mereka semua sepakat bahwa dengan kecerdikan, kematangan jiwa dan ketabahan yang terdapat dalam dirinya, Balqis akhirnya dapat merebut kembali kerajaannya.
Dzul Adz’ar tewas dengan gorokan pisau di lehernya. Dan semenjak itu Balqis memerintah kaumnya dengan penuh hikmah, adil dan bijaksana. Dalam kekuasaannya, Saba meraih kegemilangan. Salah satu capaian yang diukir oleh Balqis adalah direnovasinya bendungan yang terkenal sad Ma’rab. Nama kerajaan ini menjadi terkenal di kawasan Arabia dan sebagian Eropa. Dalam sejarah Yunani kuno disebutkan bahwa pada zamannya terjadi transaksi perdagangan di antara tajir-tajir Saba dan Yunani. Bahkan para pedagang Yunani yang telah mengunjungi kerajaan Saba menyebutkan bahwa masyarakat Saba merupakan masyarakat berperadaban paling maju di era itu.
Ratu Saba dan Nabi Sulaiman
Pada saat kerajaan Saba di bawah pemerintahan ratunya sedang berada dalam puncak kegelimangan, Nabi Sulaiman alaihissalam telah menjadi salah satu raja terkenal di antara bani Israil di kawasan Palestina (Syam). Sulaiman dikaruniai Allah kemampuan untuk berkomunikasi dan menaklukkan golongan hewan dan jin. Oleh karena itu tidak mengherankan jika dari skala bala tentara, jumlah yang dimiliki Sulaiman lebih besar daripada bala tentara Saba.
Kisah ini tersebut dalam firman Allah surat An-Naml ayat 20-44. Alkisah –dalam sebuah penafsiran- bahwa pada suatu kesempatan Nabi Sulaiman mengutus burung Hudhud untuk mencari sumber air tambahan. Lama tak jua kembali ternyata Hudhud sampai ke daerah Yaman dan menemukan sebuah kaum (rakyat Saba) yang diperintah oleh seorang ratu. Yang menarik perhatian Hudhud adalah ketika dilihatnya kaum ini musyrik dengan menyembah matahari seraya berkorban sesajen kepadanya.
Nabi Sulaiman naik pitam sebab keterlambatan ini dan berjanji akan menghukum Hudhud sesegeranya ia tiba, kecuali Hudhud terlambat dengan alasan yang masuk akal. Maka berkata Hudhud sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran:
“Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini” Q.S. An-Naml: 22
Nabi Sulaiman yang terkenal dengan kematangan akal dan hikmahnya tidak merespon kecuali dengan berkata: "Akan kita lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta”. Lalu Nabi Sulaiman mengirimkan sebuah surat kepada Balqis ratu Saba yang berisi ajakan untuk hanya menyembah Allah S.W.T.
Isi surat Nabi Sulaiman ini tertera dalam Quran sebagai berikut: “
Dari SuIaiman dan sesungguhnya dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri"
Balqis dan Musyawarah
Manakala ratu Balqis menerima dan membaca surat dari Sulaiman, segera ia kumpulkan para menteri dan para pembesar di antara kaumnya. Balqis meminta agar mereka memusyawarahkan perihal surat Sulaiman ini. Hal ini diabadikan oleh Al-Quran sebagaimana Balqis berkata: "Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)"
Saat itu kerajaan Saba telah terkenal di antara raja-raja lainnya sebagai salah satu kerajaan terkuat dengan bala tentaranya yang tangguh. Maka para menteri ketika membaca surat itu menganggap bahwa Sulaiman meremehkan mereka. Maka para menteri itu berkata: "Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu. Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan". Hal ini mengisyaratkan bahwa mereka lebih memilih perang daripada berserah diri kepada kekuasaan Sulaiman.
Namun ternyata Balqis memiliki pandangan yang lebih jauh ke depan, tatkala dia berkata bahwa raja-raja apabila memasuki suatu negeri niscaya mereka membinasakannya. Dan mereka menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina, dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Disini letak kepiawaian dan kecerdasan Balqis. Dia lebih menganjurkan untuk terlebih dahulu mengirimkan hadiah kepada Sulaiman, dengan harapan semoga Sulaiman bisa lunak hatinya bahkan berubah pikiran sama sekali. Para pembesar menyetujui usulan Balqis. Maka diutuslah beberapa pembesar untuk menghadap Sulaiman seraya membawa persembahan hadiah.
Sesampainya para utusan di depan Sulaiman, utusan Allah ini berkata: "
Apakah patut kamu mengulurkan harta kepadaku? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada mereka sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya”
Maka tatkala Balqis mendengar jawaban yang disampaikan para utusannya, tahulah ia siapa dan betapa kuatnya Sulaiman dan bala tentaranya. Maka dikumpulkannyalah seluruh tentara dan pengawal pribadinya untuk menuju Syam demi menemui Sulaiman.
Sementara itu ketika Sulaiman mengetahui bahwa Balqis akan dating, beliau kumpulkan semua pembesarnya seraya meminta untuk mendatangkan singgasana Balqis ke Syam sebelum mereka datang. Alhasil, seorang pembesar yang memiliki pengetahuan mendalam akan Taurat menyanggupi untuk mendatangkannya sebelum Nabi Sulaiman berkedip. Setelah itu dimintanya agar singgasana itu dirubah sedemikian rupa agar Balqis tidak mengenalinya. Hal ini untuk menguji sejauh mana kecerdikan dan ketajaman Balqis sehingga ia memang patut untuk memerintah kaumnya.
Ketika Balqis dan tentaranya sampai dan telah duduk di singgasananya sendiri, Nabi Sulaiman bertanya: “Seperti inikah singgasanamu?” Maka Balqis menjawab: "Seakan-akan singgasana ini singgasanaku” Dan ini bukti lain dari kecerdikan Balqis, sebab ketika ia menjawab dengan pertanyaan itu sesungguhnya dia tidak yakin bahwa bagaimana mungkin singgasana dapat berpindah tempat dalam waktu yang begitu cepat. Namun dalam keraguan itu dia tidak memungkiri bahwa singgasana itu mirip dengan kepunyaannnya. Dan memang sesungguhnya singgasana adalah miliknya hanya telah dirubah atas perintah Sulaiman.
Pada saat yang sama Balqis segera teringat akan sebuah kenabian yang menyebutkan bahwa akan datang padanya seorang nabi Allah yang sanggup memindahkan singgasananya dalam sekejap mata. Pada saat itulah Balqis segera sadar bahwa dirinya dan kaumnya telah berlaku zalim dengan mempersekutukan Allah. Saat itu pula Balqis menyeru seluruh kaumnya untuk memeluk agama yang dibawa oleh Sulaiman.
Berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam"
Pada akhirnya, kisah ratu Saba dan Nabi Sulaiman ini akan selalu abadi di dalam Al-Quran hingga ke akhir zaman. Hal ini tidak lain agar setiap ulil albab yang membacanya bisa mengambil ‘ibrah dan pelajaran-pelajaran berharga.
Subscribe to:
Posts (Atom)